Economics of Language: A Gentle Introduction

Jose Rizal Joesoef (joserizalj@yahoo.co.id)

Words that a speaker is going to say and the interpretation of the words that a listener is going to make are a matter of choice. Say words that give maximum benefits and minimum costs to the speaker, and interpret the words that give maximum benefits and minimum costs to the listener. This article shows you that there are costs and benefits in interactive verbal communication.

.

Ekonom tentu sepakat bahwa harga adalah sarana utama untuk mengomunikasikan informasi tentang preferensi, teknologi, dan ketersediaan sumberdaya. Di sini, saya ingin mengatakan bahwa, di bawah asumsi bahwa kita (= SAYA + ANDA) bisa berbicara, our main means of communication is surely words.

Kata adalah sarana utama kita untuk menyampaikan informasi serta mendapatkan informasi. Sebut saja siapa yang mengujarkan kata sebagai pembicara (speaker), dan yang mendengarkan kata sebagai pendengar (listener).

Dalam komunikasi, sekedar kata atau ujaran (yaitu satu atau beberapa kata yang diucapkan secara lisan) tanpa adanya common language, tidak akan menciptakan komunikasi di antara speaker dan listener. Common language cukup menjamin adanya understanding di antara speaker dan listener. Di samping itu, common language akan melancarkan komunikasi, sehingga speaker vis-à-vis listener tidak memerlukan penerjemah (intermediary). Adanya penerjemah mengimplikasikan biaya. Dengan kata lain, adanya common language akan memurahkan transaction cost.

Di sini diargumentasikan bahwa language yaitu a set of common sounds and symbols by which individual communicateakan bersifat common apabila:

  • SAYA tidak bisa menghalangi ANDA untuk menggunakan bahasa SAYA, sebaliknya ANDA pun tidak bisa melarang SAYA untuk menggunakan bahasa ANDA.
  • Penggunaan SAYA atas bahasa tertentu tidak mengurangi ketersediaan bahasa itu bagi ANDA.

Sedemikian rupa sehingga bahasa menjadi semacam “barang bebas” di mana semua orang boleh menggunakan bahasa tertentu tanpa satu orang pun bisa menghakmiliki bahasa itu.

Bahasa bersifat situated, yaitu mengacu kepada situasi di mana, kapan, dan bagaimana bahasa itu dikomunikasikan. Kata atau ujaran dalam bahasa tertentu dalam situasi komunikasi tertentu, akan menghasilkan speaker meaning dan listener interpretation yang berbeda dengan kata dan ujaran tersebut dalam situasi komunikasi yang lain.

Lebih jauh, situasi komunikasi tertentu via bahasa tertentu (common language) akan menghasilkan mutual understanding di mana

  • di satu pihak, meaning dari suatu ujaran (yang disampaikan oleh speaker) tergantung kepada pengetahuan speaker tentang apa yang dapat dipahami dan/atau sudah diketahui oleh listener, dan kemudian
  • di pihak lain, meaning dari ujaran itu (yang diterima oleh listener) tergantung kepada pengetahuan listener tentang apa yang dapat dipahami dan/atau sudah diketahui oleh speaker.

Pendek kata, berkomunikasi antara ANDA dan SAYA adalah situasi sequential-interactive.

Di satu pihak, sebelum speaker menyampaikan kata atau ujaran, ia berada dalam situasi di mana ia harus memilih berbagai macam kata atau ujaran yang tersedia. Misalnya, ketika SAYA bertemu ANDA dan kemudian SAYA mengujarkan: “Diamput, kemana saja selama ini?” Sebelum saya memilih dan menggunakan kata “Diamput” dalam ujaran itu, saya mungkin memiliki beberapa alternatif pengganti kata “Diamput, …” tersebut, misalnya “Edan, …”, “Gile loe,…”, “Weleh, weleh, weleh, ….”, dll.

Di pihak lain, sebelum listener menginterpretasikan arti kata atau ujaran itu, ia berada dalam situasi di mana ia harus memilih berbagai macam interpretasi yang tersedia. Misalnya, ketika ANDA mendengar kata “Diamput” dalam ujaran SAYA, ANDA bisa menginterpretasikan arti kata itu sebagai, misalnya, wujud dari keakraban SAYA, kemarahan SAYA, wujud dari urakan SAYA, dll.

Ekonomika mengajarkan “Pilihlah sesuatu yang menjanjikan benefit terbesar sekaligus cost terkecil!”. Tentu saja benefitcost tidak saja bersifat tangible-material, melainkan juga bisa intangible-immaterial. Jadi, dalam (rational) speech society, speaker dan listener harus menjadi benefit maximizer sekaligus cost minimizer. There are costs and benefits in verbal communicative interaction.

Pendek kata, kata atau ujaran bisa dipandang sebagai a matter of choice, dan menginterpretasikannya pun bisa dipandang sebagai juga a matter of choice.

.

Tulisan ini diinspirasi oleh:

  • Joseph FARREL, (1995), Talk Is Cheap, American Economic Review, Vol. 85, No. 2, pp.186–190.
  • Prashant PARIKH (2000), Communication, Meaning, and Interpretation, Linguistics and Philosophy, Vol. 23, pp.185–212.
  • Ariel RUBINSTEIN (2000), Economics and Language: Five Essays, Cambridge, UK: Cambridge University Press.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: