Apakah Yang Dimaksud dengan Ekonomika?

PENDAHULUAN

Apa ekonomika (= ilmu ekonomi) itu? Apa yang anda harapkan setelah mempe­lajarinya? Pertanyaan ini tidaklah mudah untuk dijawab. Anda jangan berharap banyak dari kamus, yang dengan enteng mengatakan bahwa ekono­mika—yang berasal dari bahasa Latin oikonomia—adalah sebuah studi yang bersangkut-paut dengan aktivitas:

  • Produksi
  • Konsumsi, dan
  • Perdagangan.

Pengertian ini rasanya sudah kuno! Tentang ekonomika, anda jangan berharap banyak dari saya. Tetapi, saya akan bercerita tentang ekonomika sejauh yang saya ketahui.

Rasanya lebih mudah menjelaskan ekonomika dengan menempatkan diri kita sebagai pelaku ekonomi. Sorry, kalau saya terpaksa men­de­finisikan anda plus saya sebagai “kita.” Saya akan menyebut yang bukan anggota kita sebagai “mereka.” Kalau pembaca tidak sepakat dengan “kita” ini, tutup artikel ini. Tapi saya mempunyai derajad keyakinan 95% bahwa orang lain yang membaca artikel ini akan menjadi “kita.” (Hehehe…) Definisikan saja, kita adalah bukan mereka dan mereka adalah bukan kita.



HIDUP PENUH DENGAN PILIHAN AKTIVITAS

Saya yakin, hampir semua orang banyak maunya, tidak peduli apakah laki atau wanita, tua atau muda, orang Arab atau Cina, orang pegunungan atau orang pesisir, orang berpendidikan tinggi atau orang berpendidikan rendah, orang pintar atau goblok, dll. Termasuk kita. Misalnya,

  • Sebelum berangkat ke kantor/kampus, maunya kita bersenam pagi dulu, lalu mandi, sarapan, minum kopi sambil membaca koran.
  • Di dalam toko elektronik, maunya kita membeli TV 50 inci, microwave, vacuum cleaner, kulkas empat pintu, mesin cuci, dll.
  • Di dalam supermarket Ramayana, maunya kita membeli sepatu, baju, celana, parfum, jam tangan, dll.
  • Mendekati usia pensiun, maunya kita mendapat gelar profesor, gelar haji, menduduki jabatan komisaris, punya vila dan lahan pertanian, punya mantu yang kaya, dll.
  • Mumpung si istri masih tinggal di luar kota, maunya kita mengencani teman kerja kita yang cantik-cantik, si Tutik, si Tutuk, si Tutut, si Tatik.
  • Mumpung dekat sama kekuasaan, maunya kita dapat jabatan dirjen, komisaris BUMN, rektor universitas, gelar profesor, ketua partai politik, dll.
  • Mumpung masih menjabat, maunya kita dapat duit dari pos anggaran pembangunan fisik, dari pos anggaran non fisik, dari pelaksana proyek, dari sisa perjalanan ke luar negeri, dan dari yang lainnya.
  • Menjelang berbuka puasa, maunya kita takjil dulu dengan korma, es teler, es soda gembira, nenggak supplement drink, kemudian makan ayam goreng lalapan plus sate kelinci plus ikan lele, dll.

Dengan kata lain, kita ini sebenarnya makhluk yang serakah (greedy), atau paling tidak mempunyai kecenderungan untuk menjadi serakah. Nah, kalau boleh saya membuat rumus umumnya, kira-kira bunyinya begini:

Orang yang mempunyai banyak pilihan aktivitas adalah orang yang banyak maunya, semakin banyak aktivitas yang dipertimbangkan untuk dilakukan, sema­kin banyak maunya.

Kita pasti setuju dengan general statement ini. Kalau tidak setuju, segera tutup artikel ini.


MENGAPA HARUS MEMILIH?

Namun sayang, keinginan-keinginan yang kita daftar baik di selembar kertas atau sekedar dibayangkan di dalam benak kita, tidak semuanya bisa diwujudkan dalam aktivitas-aktivitas. Kalau pun mungkin bisa terwujud semuanya, aktivitas-aktivitas itu tidak bisa dilaksanakan secara simultan. Dengan kata lain, pada titik di mana kita memiliki banyak keinginan (want) dalam wujud aktivitas-aktivitas, paling tidak dua aktivitas, maka segera—secara sadar atau tidak—kita dipaksa untuk memilih.

Kita harus memilih karena kita menderita kelangkaan (scarcity). Kelangkaan apa? Kalau boleh saya ambil intinya adalah kelangkaan akan adanya uang, tenaga (power), dan waktu yang kita kuasai. Misalnya:

  • Maunya pemerintah mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Tapi berhubung sumber anggaran negara terbatas, terpaksa subsidi BBM dialihkan ke sebagian rakyat saja.
  • Karena bangun kesiangan sehingga waktunya terbatas, kita terpaksa berangkat ke kantor tanpa mandi dan sarapan, kemudian berangkat lewat tengah kota atau pinggir kota; atau mbolos saja.
  • Daripada capek-capek, saya membuang puntung rokok di sini saja ketimbang berjalan kaki 100 meter menuju tong sampah.
  • Karena uangnya mepet, seorang mahasisiwa (dan dosen) membeli buku bajakan yang lebih murah.
  • Karena merasa waktu dan uangnya pas-pasan, kita memilih berkencan dengan sekretaris kita di kantor saja setelah jam kerja.
  • Bagi yang suka berselingkuh pun juga harus memilih, apakah berkencan di dalam kota, di luar kota, atau di kantor saja; dikawin, disiri, “digantung” saja.
  • Mau ngrampok bank kita juga harus memilih, apakah Bank BNI atau Bank BCA, kantor cabang atau kantor cabang pembantu, membawa clurit, pistol, atau tanpa senjata. Bahkan kalau kepergok, apakah membunuh korban atau ketahuan identitas kita.

Oleh karena uang, waktu, dan power sedemikian langkanya sehingga secara intuitif membuat kita tidak berdaya. maka tiga kata ini digabung saja menjadi satu kata, yaitu: sumberdaya (resources). Dengan demikian kita bisa membuat general statement tentang kelangkaan sehubungan dengan ketersediaan sumberdaya, yaitu:

Kelangkaan (scarcity) terjadi ketika kita banyak maunya sementara sumberdaya yang kita kuasai dirasa langka adanya.

Kalau anda ingin mengatakan dalam bahasa Inggris supaya terdengar agak mewah adalah: Kelangkaan terjadi ketika kita menderita limited resources among unlimited wants. Inilah jawaban atas pertanyaan mengapa kita harus memilih.


BAGAIMANAKAH AKTIVITAS DIPILIH?

Dalam proses menyeleksi banyak aktivitas, sampai menjatuhkan pilihan pada satu aktivitas, kita pasti punya kriteria. Kriteria utama yang sudah pasti kita pertimbangkan adalah kriteria yang berkonotasi “enak” seperti

  • Menguntungkan
  • Memuaskan
  • Mensejahterakan
  • Menyenangkan, atau
  • Mengasyik­kan.

Atau, jika kriteria enak ini dinyatakan sebagai kata sifat (adjective) adalah kaya, murah, aman-tentram, pintar, cantik, sexy, terkenal, dan lain-lain. Indikasi dari adanya sisi yang enak ini, oleh ekonom, dinamakan penerimaan (revenue) atau manfaat (benefit).

Namun dari pengalaman puluhan tahun menghirup udara bumi ini, ternyata tidak ada satu aktivitas pun yang isinya enak saja. Dalam setiap aktivitas, pasti ada sisi yang nggak enak, misalnya

  • Mau untung dalam bisnis, ya mengeluarkan biaya modal dulu
  • Mau puas, ya putar-putar dulu membuang waktu dan tenaga untuk mendapatkan barang yang pas harga dan kualitasnya.
  • Mau lulus ujian, ya belajar dulu sampai subuh.
  • Mau kelihatan cantik dan sexy, ya berlapar-lapar dulu dalam rangka diet plus fitness seminggu tiga kali.
  • Mau dapat duit dari mbobol bank, ya harus menyiapkan dana operasional untuk anak buah kita, termasuk dana untuk nyogok aparat hukum.

Indikasi dari adanya sisi yang nggak enak ini, oleh ekonom, dinamakan pengeluaran (expense) atau biaya (cost).

Oleh karena dalam setiap aktivitas mengandung unsur enak dan nggak enaknya, di mana enak = manfaat dan nggak enak = biaya, maka insting kita akan mengarahkan kepada kriteria aktivitas sebagai berikut

enak > nggak enak

atau kata ekonom, benefit-nya harus lebih besar dari cost-nya.

Ekonom memberikan banyak nama kepada selisih atau jarak antara benefit dan cost dari sebuah aktivitas. Untuk kasus di mana benefit lebih besar daripada cost, selisih keduanya dinamakan, antara lain:

  • Laba (profit atau gain)
  • Kepuasan (utility)
  • Kesejahteraan (welfare)

Untuk kasus di mana benefit lebih kecil daripada cost, selisih keduanya dinamakan, antara lain:

  • Rugi (loss)
  • Ketidakpuasan (disutility)
  • Ketaksejahteraan (diswelfare)

Kalau dalam sebuah aktivitas, benefit dan cost-nya sama bagaimana? Ekonom bilang itu adalah kondisi pulang pokok atau break-even.

Jadi, jawaban atas pertanyaan bagaimana aktivitas dipilih, bisa diformulasikan sebagai berikut:

Di dalam setiap aktivitas, pasti ada sisi benefit dan sisi cost-nya. Maunya orang adalah memilih aktivitas yang benefit-nya lebih besar daripada cost-nya, atau cost-nya lebih kecil daripada benefit-nya.

Saya tidak percaya kalau anda tidak setuju dengan statement ini.


PENUTUP (last but not least)

Sekarang coba dibayangkan jika saya dan kita semua (termasuk “mereka”) menderita kelangkaan, yaitu sumberdaya yang kita dan mereka kuasai dirasa ter­ba­tas, tetapi maunya kita dan mereka tidak terbatas. Secara ekstrem, semua orang merasa menderita langka, dan semua orang banyak mau­nya. Secara intuitif bisa dibayangkan apa yang akan terjadi, yaitu dulu-duluan, rebutan, dan sikut-sikutan di antara satu orang vis-à-vis orang lainnya untuk menguasai sumberdaya. Dalam bahasa Inggris, terjadi gesekan antara each one against the others. Singkat kata, yang terjadi adalah rivalitas.

Situasi rivalitas ini, dalam konteks yang lebih sempit, pasti sering kita lihat. Misalnya,

  • Kita nyikut teman sekantor supaya gagal menduduki jabatan yang kita incar.
  • Kita nyokot teman sekomplotan supaya kita tidak dituntut dengan pasal berlapis.
  • Kalau dalam perdagangan, kita membanting harga agar pesaing kita bangkrut krut.
  • Kita membangun isu negatif terhadap lawan politik kita agar habis reputasinya.
  • Amerika membombardir Iraq agar ia bisa menguasai sumber jalur perdagangan minyak dunia.
  • Kita membunuh orang untuk bisa menguasai harta orang itu.
  • Kita zig zag di jalan sempit agar lebih cepat sampai di kantor.

Berdasarkan uraian di atas, beberapa benang merah bisa ditarik untuk menjawab pertanyaan besar kita: “Apakah Ekonomika itu?” Jawaban yang bisa saya berikan adalah:

Ekonomika (ilmu ekonomi) adalah bidang ilmu yang khusus mempelajari (1) perilaku orang-orang di antara kita, (2) perilaku orang-orang di dalam mereka-mereka, (3) perilaku kita vis-à-vis mereka, dalam menentukan sebuah aktivitas, di mana dianggap semua orang menderita keterbatasan sumberdaya (uang + waktu + power) di antara keinginan-keinginannya yang tidak terbatas. Aktivi­tas yang banyak enaknya atau sedikit nggak enaknya, akan diperebutkan oleh orang-orang di dalam (within) kita sendiri, dan oleh kita vis-à-vis mereka.

Itulah ekonomika.

 

2 Responses to “Apakah Yang Dimaksud dengan Ekonomika?”

  1. Widi Joerianto Says:

    Zal, this is only a comment. Sarcastic but true, someone told me few times ago…
    Perilaku memang sesuatu yang sifatnya abstrak. Terlebih dalam business, greedy mean ekspansi usaha walau at the end adalah benefit. Semua cara dilaksanakan sesuai dengan kehendak such as: mendekati kekuasaan atau mendekati penguasa sebagai regulator or whatever….no moral or ethic here….
    oleh karena itu, beliau yang membisikan ke telinga saya bahwa “bussiness itu temennya setan!” semua cara dipakai….
    inilah perilaku….

  2. Jose Rizal Joesoef Says:

    Betul Wid, fakta (atau kenyataan) memang kadangkala terasa pahit jika dinyatakan atau dieksplisitkan. Should the bitter fact or “the way they do around here” be softened?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: