<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Jose Rizal Joesoef</title>
	<atom:link href="http://joserizalj.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://joserizalj.wordpress.com</link>
	<description>Dicèlup ora tèlès, dipépé ora garing</description>
	<lastBuildDate>Sat, 17 Apr 2010 02:40:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='joserizalj.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Jose Rizal Joesoef</title>
		<link>http://joserizalj.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://joserizalj.wordpress.com/osd.xml" title="Jose Rizal Joesoef" />
	<atom:link rel='hub' href='http://joserizalj.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Economics of Language: A Gentle Introduction</title>
		<link>http://joserizalj.wordpress.com/2008/11/05/economics-of-language-an-introduction/</link>
		<comments>http://joserizalj.wordpress.com/2008/11/05/economics-of-language-an-introduction/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Nov 2008 06:46:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jose Rizal Joesoef</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Economics of Language: An Introduction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://joserizalj.wordpress.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Jose Rizal Joesoef (joserizalj@yahoo.co.id) Words that a speaker is going to say and the interpretation of the words that a listener is going to make are a matter of choice. Say words that give maximum benefits and minimum costs to the speaker, and interpret the words that give maximum benefits and minimum costs to the listener. This article [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joserizalj.wordpress.com&amp;blog=4841358&amp;post=134&amp;subd=joserizalj&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="IN"><strong>Jose Rizal Joesoef </strong>(<a href="mailto:joserizalj@yahoo.co.id">joserizalj@yahoo.co.id</a>)</span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="IN"><strong>Words that a speaker is going to say and the interpretation of the words that a listener is going to make are a matter of choice. Say words that give maximum benefits and minimum costs to the speaker, and interpret the words that give maximum benefits and minimum costs to the listener. This article shows you that there are costs and benefits in interactive verbal communication.</strong></span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="IN">.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="IN">Ekonom tentu sepakat bahwa harga adalah sarana utama untuk mengomunikasikan informasi tentang preferensi, teknologi, dan ketersediaan sumberdaya. Di sini, saya ingin mengatakan bahwa, di bawah asumsi bahwa kita (= SAYA + ANDA) bisa berbicara, <strong><em>our main means of communication is surely</em></strong><em> <strong>words</strong></em>. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="IN">Kata adalah sarana utama kita untuk menyampaikan informasi serta mendapatkan informasi. Sebut saja siapa yang mengujarkan kata sebagai pembicara (<em>speaker</em>), dan yang mendengarkan kata sebagai pendengar (<em>listener</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="IN">Dalam komunikasi, <strong>sekedar </strong>kata atau ujaran (yaitu satu atau beberapa kata yang diucapkan secara lisan) tanpa adanya <em>common language</em>, tidak akan menciptakan komunikasi di antara <em>speaker</em> dan <em>listener</em>. <em>Common language</em> cukup menjamin adanya <em>understanding</em> </span><span style="font-family:Verdana;" lang="IN">di antara <em>speaker</em> dan <em>listener</em></span><span style="font-family:Verdana;" lang="IN">. Di samping itu, <em>common language </em>akan melancarkan komunikasi, sehingga <em>speaker vis-à-vis listener</em> tidak memerlukan penerjemah (<em>intermediary</em>). Adanya penerjemah mengimplikasikan biaya. Dengan kata lain, adanya <em>common language </em>akan memurahkan </span><span style="font-family:Verdana;" lang="IN"><strong><em>transaction cost</em></strong>.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal">Di sini diargumentasikan bahwa <em>language </em>&#8211;<span style="font-family:Verdana;" lang="IN">yaitu <em>a set of common sounds and symbols by which individual communicate</em>&#8211;</span>akan bersifat <strong><em>common </em></strong>apabila:</p>
<ul>
<li>SAYA tidak bisa menghalangi ANDA untuk menggunakan bahasa SAYA, sebaliknya ANDA pun tidak bisa melarang SAYA untuk menggunakan bahasa ANDA.</li>
<li>Penggunaan SAYA atas bahasa tertentu <strong>tidak </strong>mengurangi ketersediaan bahasa itu bagi ANDA.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal">Sedemikian rupa sehingga bahasa menjadi semacam &#8220;barang bebas&#8221; di mana <strong>semua orang boleh menggunakan bahasa tertentu tanpa satu orang pun bisa menghakmiliki bahasa itu</strong>.</p>
<p class="MsoNormal">Bahasa bersifat <em>situated</em>, yaitu mengacu kepada situasi di mana, kapan, dan bagaimana bahasa itu dikomunikasikan. Kata atau ujaran dalam bahasa tertentu dalam situasi komunikasi tertentu, akan menghasilkan <em>speaker meaning </em>dan <em>listener interpretation </em>yang berbeda dengan kata dan ujaran tersebut dalam situasi komunikasi yang lain.</p>
<p class="MsoNormal">Lebih jauh, situasi komunikasi tertentu <em>via </em>bahasa tertentu (<em>common language</em>) akan menghasilkan <span style="font-family:Verdana;" lang="IN"><em>mutual understanding</em> di mana</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="square">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="IN">di satu pihak, <em>meaning</em> dari suatu ujaran (yang disampaikan oleh <em>speaker</em>) tergantung kepada pengetahuan <em>speaker</em> tentang apa yang dapat dipahami dan/atau sudah diketahui oleh <em>listener</em>, dan kemudian </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="IN">di pihak lain, <em>meaning</em> dari ujaran itu (yang diterima oleh <em>listener</em>) tergantung kepada pengetahuan <em>listener</em> tentang apa yang dapat dipahami dan/atau sudah diketahui oleh <em>speaker.</em></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="IN">Pendek kata, berkomunikasi antara ANDA dan SAYA adalah situasi </span><span style="font-family:Verdana;" lang="IN"><em>sequential-</em></span><span style="font-family:Verdana;" lang="IN"><em>interactive</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="IN">Di satu pihak, sebelum <em>speaker</em> menyampaikan kata atau ujaran, ia berada dalam situasi di mana ia harus memilih berbagai macam kata atau ujaran yang tersedia. Misalnya, ketika SAYA bertemu ANDA dan kemudian SAYA mengujarkan: “<em>Diamput</em>, kemana saja selama ini?” Sebelum saya memilih dan menggunakan kata “<em>Diamput</em>” dalam ujaran itu, saya mungkin memiliki beberapa alternatif pengganti kata “<em>Diamput</em>, &#8230;” tersebut, misalnya “<em>Edan</em>, &#8230;”, “<em>Gile loe,&#8230;</em>”, “<em>Weleh, weleh, weleh, &#8230;.</em>”, dll.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="IN">Di pihak lain, sebelum <em>listener</em> menginterpretasikan arti kata atau ujaran itu, ia berada dalam situasi di mana ia harus memilih berbagai macam interpretasi yang tersedia. Misalnya, ketika ANDA mendengar kata “<em>Diamput</em>” dalam ujaran SAYA, ANDA bisa menginterpretasikan arti kata itu sebagai, misalnya, wujud dari keakraban SAYA, kemarahan SAYA, wujud dari urakan SAYA, dll.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="IN">Ekonomika mengajarkan “Pilihlah sesuatu yang menjanjikan <em>benefit</em> terbesar sekaligus <em>cost</em> terkecil!”. Tentu saja <em>benefit</em>-<em>cost</em> tidak saja bersifat <em>tangible-material</em>, melainkan juga bisa <em>intangible-immaterial</em>. Jadi, dalam (<em>rational</em>) <em>speech society</em>, <em>speaker</em> dan <em>listener</em> harus menjadi <em>benefit maximizer</em> sekaligus <em>cost minimizer</em>. </span><span style="font-family:Verdana;" lang="IN"><em>There are costs and benefits in verbal communicative interaction</em>.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="IN">Pendek kata, kata atau ujaran bisa dipandang sebagai <em>a matter of choice</em>, dan menginterpretasikannya pun bisa dipandang sebagai juga <em>a matter of choice</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="IN"><em></em>.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="IN">Tulisan ini diinspirasi oleh: </span></p>
<ul>
<li>Joseph FARREL, (1995), Talk Is Cheap, <strong><em>American Economic Review</em></strong>, Vol. 85, No. 2, pp.186–190.</li>
<li>Prashant PARIKH (2000), Communication, Meaning, and Interpretation, <strong><em>Linguistics and Philosophy</em></strong>, Vol. 23, pp.185–212.</li>
<li><span style="font-family:Verdana;" lang="IN">Ariel RUBINSTEIN (2000), <em><strong>Economics and Language: Five Essays</strong>, </em>Cambridge, UK: Cambridge University Press.</span></li>
</ul>
<p><span style="font-family:Verdana;" lang="IN"><br />
</span></p>
<br />Posted in Uncategorized Tagged: Economics of Language: An Introduction <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/joserizalj.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/joserizalj.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/joserizalj.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/joserizalj.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/joserizalj.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/joserizalj.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/joserizalj.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/joserizalj.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/joserizalj.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/joserizalj.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/joserizalj.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/joserizalj.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/joserizalj.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/joserizalj.wordpress.com/134/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joserizalj.wordpress.com&amp;blog=4841358&amp;post=134&amp;subd=joserizalj&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://joserizalj.wordpress.com/2008/11/05/economics-of-language-an-introduction/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/51bfa91a68506ea5bf81c1046c927364?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">joserizalj</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>To Know or Not To Know, That Is the Question</title>
		<link>http://joserizalj.wordpress.com/2008/11/03/to-know-or-not-to-know-that-is-the-question/</link>
		<comments>http://joserizalj.wordpress.com/2008/11/03/to-know-or-not-to-know-that-is-the-question/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Nov 2008 16:48:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jose Rizal Joesoef</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[That Is the Question]]></category>
		<category><![CDATA[To Know or Not To Know]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://joserizalj.wordpress.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[By Jose Rizal Joesoef Knowing something does not always become a gift for you. Knowing something could become a disaster for you. Think of him/her who you love very much. You insist him/her to expose his/her feeling toward you. When he/she tell you that he/she love you as well, then there is no problem between [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joserizalj.wordpress.com&amp;blog=4841358&amp;post=122&amp;subd=joserizalj&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>By <strong>Jose Rizal Joesoef</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align:left;"><strong>Knowing something does not always become a gift for you. Knowing something could become a disaster for you. Think of him/her who you love very much. You insist him/her to expose his/her feeling toward you. When he/she tell you that he/she love you as well, then there is no problem between you and him/her. But, when he/she tell you that he/she does not love you, then you can not pretend that you do not know that he/she truely does not love you. Knowing something that you do not expect has a price you have to pay. Are you dare to know something?</strong></p>
</blockquote>
<p>.</p>
<p>Mengetahui sesuatu, tidak dengan serta merta menjadi anugerah bagi kita. Menjadi tahu terhadap sesuatu, bisa menjadi bencana. Sebab, misalnya, ketika kita (ANDA + SAYA) diasumsikan sebagai bukan pelupa, keterlanjuran kita telah mengetahui sesuatu (<em>ex ante</em>), akan menyulitkan kita untuk berpura-pura tidak tahu (<em>ex post</em>).</p>
<p>Sebagai gambaran, anggaplah ANDA adalah seorang wanita <em>jomblo</em>, sementara SAYA adalah seorang laki-laki bujang (kebetulan penulis adalah lelaki tulen), di mana keduanya bertugas dan berinteraksi dalam satu tim di suatu lokasi tertentu, untuk, katakan, selama 30 hari. Di tengah perjalanan menunaikan tugas kita&#8211;yaitu pada hari ke 15, dari hati SAYA yang paling dalam muncul perasaan cinta SAYA terhadap ANDA. <em>It is not too quick for a man to fall in love with a woman</em> <em>in fifteen days</em>.</p>
<p>Perasaan cinta SAYA terhadap ANDA masih SAYA batinkan, sementara SAYA belum tahu apakah ANDA juga memendam perasaan yang sama terhadap SAYA. Adalah wajar bagi siapapun yang sedang jatuh cinta, untuk &#8220;mencocokkan&#8221; perasaan cintanya terhadap pihak yang dicintainya. (ANDA mungkin juga ingin mengetahui &#8220;Ada apa dengan SAYA?&#8221;, karena ANDA merasakan adanya perubahan perlakuan dan sikap SAYA terhadap ANDA.) Asumsikan bahwa &#8220;cinta&#8221; adalah barang privat (<em>private good</em>) yang hanya bisa dihakmiliki oleh seorang tertentu saja, bukan barang publik (<em>public good</em>) yang bisa dikonsumsi oleh banyak orang.</p>
<p>Karena gemuruh rasa cinta SAYA yang tak terkendali, SAYA kemudian mengeksplisitkan perasaan itu kepada ANDA, dengan mengatakan: &#8220;SAYA mencintai ANDA&#8221;, yang dilanjutkan dengan pertanyaan: &#8220;Apakah ANDA juga mencintai SAYA?&#8221; Jika, ANDA juga memiliki perasaan yang sama dan kemudian menyatakan juga perasaan cinta ANDA terhadap SAYA, maka <em>there will be no problem with us</em>. ANDA dan SAYA menjadi sepasang kekasih, paling tidak untuk selama 15 hari kemudian.</p>
<p>Tetapi, jika ternyata ANDA merespon bahwa ANDA tidak mencintai SAYA, maka <em>there will be serious problems between ANDA and SAYA</em>. Mengapa? Alasannya adalah ANDA dan SAYA masing-masing <strong>sudah terlanjur menjadi tahu</strong>, yaitu:</p>
<ul>
<li>Di satu sisi, ANDA sudah tahu (dari ucapan eksplisit SAYA) bahwa SAYA mencintai ANDA.</li>
<li>ANDA tahu bahwa SAYA sudah tahu bahwa ANDA tidak mencintai SAYA.</li>
<li>Di sisi lain, SAYA sudah tahu bahwa ANDA tidak mencintai SAYA.</li>
<li>SAYA sudah tahu bahwa ANDA tahu bahwa SAYA mencintai ANDA.</li>
</ul>
<p><strong>Akibatnya, ANDA tidak bisa berpura-pura tidak tahu bahwa SAYA mencintai ANDA, sementara SAYA sulit untuk berpura-pura bahwa SAYA tidak pernah mengucapkan cinta SAYA terhadap ANDA.</strong></p>
<p>Dalam situasi ini, perjalanan kita (= ANDA + SAYA) sebagai sebuah tim, akan terganggu. Di antara ANDA dan SAYA, akan terdapat perasaan rikuh (<em>awkward</em>), malu (<em>embarassed</em>), bahkan mungkin jengkel (<em>annoyed</em>). ANDA dan SAYA sudah terlanjur sama-sama tahu bahwa SAYA mencintai ANDA dan ANDA tidak mencintai SAYA. ANDA dan SAYA masing-masing mungkin akan kecewa seraya mengatakan <em>&#8220;I&#8217;d rather go blind&#8221;</em> sebagaimana judul lagunya Chicken Shack.</p>
<p>Dalam bahasa ekonomika, peristiwa &#8220;cinta bertepuk sebelah tangan&#8221; di atas dapat dinamakan sebagai suatu <em>common knowledge</em>. Ingin lebih tahu tentang teori <em>common knowledge </em>ini, silakan membaca <strong>John D. Geanakoplos (1992), Common Knowledge, <em>Journal of Economic Perspectives</em>, Vol. 6, No.4, pp.53-82</strong>.</p>
<p>Dari uraian di atas, dapat diambil pelajaran bahwa ketika seseorang mengomunikasikan pesan (<em>message</em>), maka orang itu tanpa sengaja menyampaikan pesan-pesan lainnya. Misalnya, ketika SAYA memberitahu ANDA bahwa nama SAYA adalah Jose Rizal Joesoef, maka SAYA tidak sekedar mengomunikasikan kepada ANDA bahwa SAYA tahu nama SAYA sendiri (bahkan lidah SAYA mampu mengeja dengan benar nama itu), tetapi juga (1) SAYA tahu bahwa ANDA sudah menjadi tahu nama SAYA dan (2) SAYA tahu bahwa ANDA tahu bahwa SAYA tahu nama SAYA.</p>
<p>Beranikah kita mengetahui sesuatu?</p>
<br />Posted in Uncategorized Tagged: That Is the Question, To Know or Not To Know <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/joserizalj.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/joserizalj.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/joserizalj.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/joserizalj.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/joserizalj.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/joserizalj.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/joserizalj.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/joserizalj.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/joserizalj.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/joserizalj.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/joserizalj.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/joserizalj.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/joserizalj.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/joserizalj.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joserizalj.wordpress.com&amp;blog=4841358&amp;post=122&amp;subd=joserizalj&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://joserizalj.wordpress.com/2008/11/03/to-know-or-not-to-know-that-is-the-question/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/51bfa91a68506ea5bf81c1046c927364?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">joserizalj</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengapa Rupiah Anjlok Bunga Dikatrol?</title>
		<link>http://joserizalj.wordpress.com/2008/10/29/mengapa-rupiah-anjlok-bunga-dikatrol/</link>
		<comments>http://joserizalj.wordpress.com/2008/10/29/mengapa-rupiah-anjlok-bunga-dikatrol/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 15:55:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jose Rizal Joesoef</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Mengapa Rupiah Anjlok Bunga Dikatrol?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://joserizalj.wordpress.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[By Jose Rizal Joesoef (joserizalj@yahoo.co.id) PENDAHULUAN Pasar uang (money market) dan pasar valuta asing (foreign exchange market) adalah dua “tempat” yang berbeda. Di dalam pasar uang terjadi transaksi pinjam-meminjam dana sehingga memunculkan suku bunga, sedangkan di dalam pasar valuta asing terjadi transaksi peng­kon­versian valuta satu menjadi valuta lain sehingga memuncul­kan kurs. Dalam konsep, dua pasar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joserizalj.wordpress.com&amp;blog=4841358&amp;post=64&amp;subd=joserizalj&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>By <strong>Jose Rizal Joesoef</strong> (<a href="mailto:joserizalj@yahoo.co.id">joserizalj@yahoo.co.id</a>)</p>
<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Pasar uang (<em>money market</em>) dan pasar valuta asing (<em>foreign exchange market</em>) adalah dua “tempat” yang berbeda. Di dalam pasar uang terjadi transaksi pinjam-meminjam dana sehingga memunculkan suku bunga, sedangkan di dalam pasar valuta asing terjadi transaksi peng­kon­versian valuta satu menjadi valuta lain sehingga memuncul­kan kurs. Dalam konsep, dua pasar ini boleh dipisahkan (<em>segmented</em>) secara te­gas, tetapi dalam praktik, keduanya tak terpisahkan. Misalnya, kita memin­jam dollar AS ($), kemu­dian mengkon­versinya menjadi rupiah (Rp), dan selanjutnya mendepo­sitokan Rp terse­but di dalam pasar uang Rp. Atau, kita meminjam Rp, kemu­dian mengkon­ver­si­nya menjadi $, dan kemudian mendepositokan $ tersebut di dalam pasar uang $.</p>
<p>Mengapa Bank Indonesia (BI) sering merespon jatuhnya nilai Rp—yang telah menembus Rp10.000 per $—dengan mendongkar suku bunga pasar? Padahal, bu­nga dan kurs adalah dua harga dari dua pasar yang berbeda. Bagai­mana hubungan dua indikator ini? Adakah pilihan selain kebijakan bunga?</p>
<p>.</p>
<p><span id="more-64"></span></p>
<p><strong>KURS DAN BUNGA</strong></p>
<p>Berdasarkan waktu perpindahan dananya, pasar valuta asing digo­long­­kan menja­di dua: transaksi <em>spot </em>dan transaksi <em>forward</em>. <strong>Transaksi <em>spot </em></strong>adalah jual-beli valuta dengan kewa­jib­an bagi pihak pembeli dan penjual untuk saling me­nyerahkan valutanya dalam kurun waktu maksimum dua hari kerja setelah tanggal kontrak. Dua hari kerja setelah tanggal kontrak <em>spot </em>dinama­kan <em>value spot</em>, dan harga dari transaksi ini dinamakan kurs <em>spot</em>. Misalnya, kurs yang berlaku sekarang adalah Rp9.500 per satu $ (untuk selanjutnya ditulis Rp9.500/$). Transaksi <em>spot </em>terjadi jika kita sekarang membeli $ dengan menyerahkan Rp9.500 kepada bank, dan sebagai gantinya, bank menyerahkan satu $ kepada kita sekarang juga.</p>
<p><strong>Transaksi <em>forward </em></strong>adalah jual-beli valuta dengan kewa­jib­an bagi pihak pembeli dan penjual untuk saling me­nye­rahkan valutanya dalam kurun waktu lebih dari dua hari kerja setelah tanggal kontrak. Kata “lebih dari dua hari kerja” bisa berarti, misalnya, <em>overnight</em>, satu minggu, satu bulan, tiga bulan, atau satu tahun setelah <em>value spot</em>. Harga dari transaksi ini dinamakan kurs <em>forward</em>. Misalnya, kita menjual $ terhadap (dengan membeli) Rp pada kurs Rp9.737,5/$, untuk penyerahan tiga bulan kemudian dari <em>value spot</em>. Dalam transaksi ini, kita seperti “memesan” Rp9.737,5 per satu $, dan tidak ada perpindahan valuta sampai tiga bulan kemudian.</p>
<p>Apabila transaksi <em>spot </em>dan <em>forward </em>disatukan, misalnya: kita (1) membeli $ terhadap Rp <em>spot</em>, dan secara simultan membalik transaksi ini dengan (2) menjual kembali $ terhadap Rp <em>forward </em>3-bulan, maka gabungan dua transaksi ini dinamakan <strong>transaksi <em>swap</em></strong>. Harga dari transaksi ini dinamakan <em>swap rate </em>(atau <em>swap point</em>), yaitu selisih kurs <em>forward </em>dari kurs <em>spot</em>-nya. Biasanya <em>swap rate </em>dinyatakan dalam persen.</p>
<p>Jika dicermati, peristiwa yang terjadi di dalam transaksi <em>swap </em>menyerupai peristiwa di dalam pasar uang. Kita tampak seperti meminjam $ sekaligus mende­positokan Rp selama tiga bulan, dan bank seolah-olah menyalurkan kredit $ sekali­gus menerima deposito Rp sela­ma tiga bulan. Sehingga, dalam me­ne­tapkan <em>swap rate </em>Rp terhadap $ berjangka 3-bulan, bank harus memper­timbangkan bunga kredit $ berjangka 3-bulan, dan bunga deposito Rp ber­jangka 3-bulan juga. Inilah alasan sederhana mengapa kurs dan bunga harus berhu­bung­an.</p>
<p>Mengapa transaksi <em>swap </em>dilakukan? Paling tidak ada dua motif: untuk mengan­tisipasi risiko melemahnya Rp terhadap $; dan untuk mendapatkan laba (<em>taking profit</em>) berda­sar­kan prinsip <em>sell high buy low</em>, yaitu membeli $ pada harga rendah (transaksi 1) dan menjual­nya kembali pada harga tinggi (transaksi 2). Mereka yang didorong oleh motif <em>profit-taking </em>ini dinamakan spekulan. Supaya <em>fair</em>, sebutan ini dinetralkan saja.</p>
<p>.</p>
<p><strong>PASAR UANG DAN PASAR VALUTA ASING</strong></p>
<p>Anggaplah kita sebagai bank, dan saat ini, bunga Rp dan $ berjangka 3-bulan masing-masing adalah 16% dan 6% per tahun. Kalau sekarang kita melakukan dua transaksi sekaligus di dalam pasar uang berjangka 3-bulan, yaitu: (1) menempat­kan Rp, dan (2) meminjam $, maka setelah tiga bulan berlalu, kita mendapatkan <em>spread </em>10% (= 16% – 6%) per tahun.</p>
<p>Bagaimana <em>spread </em>10% ini diperoleh dari transaksi valuta? Untuk menja­wab­nya, kita harus menemukan kurs Rp/$ <em>forward </em>3-bulan dulu. Misalnya, saat ini kurs <em>spot </em>berada pada Rp9.500/$. Jika 1% dari 9,500 adalah 95, maka 10%-nya adalah 950. Jika dinyatakan dalam persen per tiga bulan, angka 950 harus di­kalikan 3/12, sehingga 10% per tahun dari 9.500 adalah ekuivalen dengan 237,5 (= 950 x (3/12)) atau 2,5% per tiga bulan. Dalam dunia perbankan, angka 2,5% ini dinamakan <em>swap rate </em>Rp/$ berjangka 3–bulan.</p>
<p>Untuk menghitung kurs <em>forward</em>, <em>swap rate </em>harus ditambahkan kepada kurs <em>spot</em>, sehingga didapatkan kurs Rp9.737,5/$ forward 3-bulan (= 9.500 + 237,5). Ini berlaku jika bunga Rp lebih besar daripada bunga $. Selama <em>swap rate </em>ini menjadi angka penambah, ia biasanya dinamakan <em>premium swap</em>. (Sebaliknya, jika bunga Rp lebih kecil daripada bunga $, <em>swap rate </em>menjadi <em>discount swap</em>).</p>
<p>Untuk mendapatkan <em>spread </em>10%, kita dapat melakukan dua transaksi si­mul­tan berikut: (1) membeli $ pada kurs Rp9.500/$ <em>spot</em>, dan (2) menjual kembali $ pada kurs Rp9.737,5/$ <em>forward</em> 3-bulan. Dalam kata lain, kita men-<em>swap</em> Rp terhadap $ pada premi 2,5% per tiga bulan untuk $ (atau 10% (= 2,5% x 4) per tahun). Premi ini berada di pihak kita, yang merupakan implikasi dari penjualan kembali valuta berbunga rendah ($) terhadap valuta berbunga tinggi (Rp) di pasar <em>forward</em>.</p>
<p>Sampai pada bagian ini, dapat disimpulkan bahwa <em>swap rate </em>adalah angka yang berhu­bungan langsung de­ngan perbedaan bunga antara dua valuta, dan angka yang memperbe­sar/memperkecil kurs <em>spot </em>antara dua valuta tersebut sehingga menjadi kurs <em>forward-</em>nya. (Jadi, jika <em>swap rate </em>sama dengan 0%, kurs <em>spot </em>menjadi sama dengan kurs <em>forward</em>-nya.) Di samping itu, ketika pasar uang dan pasar valuta sama-sama menjanjikan <em>spread </em>10% per tahun, dua pasar ini dikatakan dalam kondisi paritas (<em>parity</em>). Di bawah kondisi paritas, siapapun harus memilih satu: operasi pasar uang atau transaksi valuta (<em>swap</em>).</p>
<p>.</p>
<p><strong>OPERASI CIA</strong></p>
<p>Bagaimana jika terdapat disparitas? Misalnya, dalam pasar uang berjangka 3-bulan, bunga Rp dan $ yang berlaku saat ini masing-masing adalah 14% dan 6% per tahun; sementara dalam pasar valuta, premi <em>swap </em>Rp/$ sama dengan 2,5% per tiga bulan (atau 10% per tahun). Apabila seorang spekulan masuk pasar uang, yaitu: (1) menempat­kan Rp, dan (2) meminjam $, tiga bulan kemudian ia keluar dengan membawa <em>spread </em>8% (= 14% – 6%) per tahun. Apabila ia masuk transaksi <em>swap</em>, yaitu: (1) membeli $ pada kurs Rp9.500/$ <em>spot</em>, dan (2) menjual kembali $ pada kurs Rp9.737,5/$ <em>forward </em>3-bulan, tiga bulan kemudian ia mengan­tongi <em>spread </em>10% (= 2,5% x 4) per tahun.</p>
<p>Rute mana yang dipilih, operasi pasar uang atau transaksi valuta asing? Keduanya memproduksi <em>net cash flow </em>yang tidak <em>square</em>: <em>net inflow </em>dalam $ terja­di sekarang, tetapi be­lum direncanakan <em>outflow</em>-nya hingga tiga bulan kemudian; dan <em>net outflow </em>dalam Rp terjadi sekarang, tetapi belum di­ren­ca­nakan <em>inflow</em>-nya hingga tiga bulan kemudian. Artinya, spekulan harus mencari sarana penempatan $ berjangka 3-bulan dan sumber pembiayaan Rp berjangka 3-bulan, untuk mengunci posisi kasnya.</p>
<p>Spekulan yang canggih tidak akan masuk pasar uang per se atau transaksi valuta <em>per se</em>. Ia akan menyelidiki ada tidaknya “celah” di antara dua pasar, dan jika ada, ia akan meng­eks­plotasi celah itu dengan empat aksi simultan berikut:</p>
<div>
<table class="MsoNormalTable" style="width:332.75pt;border-collapse:collapse;text-align:right;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="444">
<tbody>
<tr>
<td style="width:244.55pt;text-align:left;padding:0 5.4pt;" width="326" valign="top"><strong>(1)</strong> Meminjam Rp berjangka 3-bulan</td>
<td style="width:88.2pt;padding:0 5.4pt;" width="118" valign="top">–14% per tahun</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:244.55pt;text-align:left;padding:0 5.4pt;" width="326" valign="top"><strong>(2)</strong> Menjual Rp terhadap $ <em>spot</em></td>
<td style="width:88.2pt;padding:0 5.4pt;" width="118" valign="top"><em></em></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:244.55pt;text-align:left;padding:0 5.4pt;" width="326" valign="top"><strong>(3)</strong> Menginvestasikan $ berjangka 3-bulan</td>
<td style="width:88.2pt;padding:0 5.4pt;" width="118" valign="top">+6% per tahun</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:244.55pt;text-align:left;padding:0 5.4pt;" width="326" valign="top"><strong>(4)</strong> Menjual $ terhadap Rp <em>forward</em> 3-bulan ($ diju­al pada premi 2,5% per tiga bulan)</td>
<td style="width:88.2pt;padding:0 5.4pt;" width="118" valign="top">+10% per tahun</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:244.55pt;text-align:center;padding:0 5.4pt;" width="326" valign="top"><strong>Laba bersih</strong></td>
<td style="width:88.2pt;padding:0 5.4pt;" width="118" valign="top"><strong>+2% per tahun</strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p>Spekulan masuk dua pasar sekaligus: pasar uang (langkah 1 dan 3) dan transaksi <em>swap </em>(langkah 2 dan 4). Setelah tiga bulan berlalu, ia keluar dengan membawa net profit 200 basis poin. Empat langkah simultan ini dinamakan operasi CIA (<em>covered interest arbitrage</em>).</p>
<p>Dari uraian ini dapat diperkirakan dampak operasi CIA terhadap pasar. Semakin banyak “agen CIA” mengeksplotasi celah pasar, maka (1) bunga Rp akan cenderung merangkak naik sejalan dengan naiknya permintaan pinjaman Rp; dan (2) nilai valuta Rp akan cenderung semakin melemah sejalan dengan meningkatnya pembelian $ di pasar valuta <em>spot</em>.</p>
<p>Apakah langkah-langkah BI—yang secara teoritis dapat mendongkrak bunga pasar—mam­pu meredam pelemahan Rp? Berdasarkan mekanisme CIA, jawabnya: “Iya.” Apabila bunga di pasar Rp diungkit naik (di mana pengungkitnya adalah berbagai macam bunga yang berada di bawah kendali BI), celah pasar akan menyempit, dan operasi CIA berikutnya menjadi kurang mengun­tungkan. Tetapi harus diwaspadai bahwa sebelum upaya bijak BI dijalankan, operasi CIA mungkin sudah mengungkit bunga pasar ke atas, sejalan dengan naiknya permintaan pinjaman Rp.</p>
<p>.</p>
<p><strong>PENUTUP</strong></p>
<p>Akhirnya, saya ingin berdiskusi tentang premi <em>swap</em>. Anggaplah saya sebagai bank sentral, yang bertugas memproduksi premi <em>swap</em>. Ingat bahwa premi <em>swap </em>adalah angka yang ditambahkan kepada kurs <em>spot </em>sehingga menjadi kurs <em>forward</em>-nya.</p>
<p>Kalau saya menetapkan kurs <em>forward </em>3-bulan sebesar Rp9.737,5/$ (pada kurs Rp9.500/$ <em>spot</em>), berarti saya berharap (<em>expect</em>) bahwa Rp akan melemah sebesar 2,5%—premi <em>swap</em>. Dalam kata lain, saya memprediksi bahwa kurs <em>spot </em>pada tiga bulan kemudian akan jatuh pada Rp9.737,5/$. Selama premi <em>swap </em>berstatus “diharapkan,” angkanya boleh berbeda dengan yang diprediksi oleh spekulan, dan bisa melenceng (<em>bias</em>) dari kurs <em>spot </em>yang benar-benar berlaku pada tiga bulan kemudian.</p>
<p>Jika prediksi spekulan lebih besar daripada 2,5%? Bisa diduga jawabannya, mereka akan memborong $ sekarang, baik melalui transaksi <em>spot </em>maupun <em>forward </em>3-bulan. Sebaliknya, jika prediksi mereka lebih kecil daripada 2,5%, mereka mungkin akan <em>selling back</em> $-nya, atau paling tidak, berhenti memborong $. Ini berarti, dari sekian banyak dugaan jatuhnya angka kurs <em>spot </em>pada tiga bulan kemudian, bank sentral harus menetapkan premi <em>swap </em>pada angka yang minimum.</p>
<p>Tampaknya bank sentral <em>vis-à-vis</em> spekulan berada dalam situasi <em>gaming</em>. Bank sentral menduga-duga apa yang dipikirkan spekulan, sementara spekulan membayangkan dirinya sebagai bank sentral. Atau, spekulan sudah mempunyai banyak informasi tentang apa saja yang diketahui bank sentral, sebaliknya bank sentral mempunyai sedikit informasi tentang apa saja yang diketahui spekulan. Dalam situasi <em>asymmetric information</em> ini, siapa yang tahu banyak cenderung mengeksplotasi siapa yang tahu sedikit.</p>
<p>Bagaimana jika bank sentral &#8220;kalah&#8221; dalam <em>game </em>ini? Seorang mahasiswa cantik menjawabnya dengan enteng: &#8220;Masak bank sentral selalu mengejar laba!?&#8221; Yang di sebelahnya ngomong: &#8220;Jangan-jangan bank sentral juga menjadi agen CIA?&#8221;</p>
<p>.</p>
<p><strong>Catatan</strong></p>
<p>Artikel ini merupakan potongan kecil dari buku <strong>Jose Rizal Joesoef</strong>, yang berjudul &#8220;<strong>PASAR UANG DAN PASAR VALUTA ASING</strong>&#8221; (yang diterbitkan di <strong>Jakarta: Salemba Empat, </strong><strong>2008</strong>), dengan ketebalan buku 210 halaman dan lebar buku 19 x 26 cm. Buku itu menyajikan 68 contoh soal berikut jawabannya yang tersebar dalam 8 (delapan) bab berikut:</p>
<ul>
<li>BAB 1: Pasar Uang Internasional</li>
<li>BAB 2: Kurs dan Bunga</li>
<li>BAB 3: Hubungan Antarpasar</li>
<li>BAB 4: Operasi <em>Covered Interest Arbitrage </em>(CIA)</li>
<li>BAB 5: Logika CIA</li>
<li>BAB 6: Transaksi pada Harga Beli-Jual (<em>Bid-Ask</em>)</li>
<li>BAB 7: Transaksi <em>Swap</em></li>
<li>BAB 8: Manajemen Risiko (Belajar dari Contoh)</li>
</ul>
<p>Agar mudah dipahami, contoh transaksi-transaksi dalam buku itu dipaparkan dengan menggunakan format arus kas (<em>cash flow</em>). Di samping itu, buku itu mendaftar lebih dari 100 istilah dengan definisinya dalam glosarium serta dilengkapi dengan indeks.</p>
<p>Buku itu sangat berguna bagi: (1) Investor pasar valas (pemain valas), (2) Praktisi perbankan yang terkait dengan <em>foreign exchange game</em>, dan (3) Mahasiswa dan pengajar mata kuliah keuangan internasional dan/atau manajemen keuangan perbankan.</p>
<br />Posted in Uncategorized Tagged: Mengapa Rupiah Anjlok Bunga Dikatrol? <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/joserizalj.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/joserizalj.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/joserizalj.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/joserizalj.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/joserizalj.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/joserizalj.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/joserizalj.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/joserizalj.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/joserizalj.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/joserizalj.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/joserizalj.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/joserizalj.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/joserizalj.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/joserizalj.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joserizalj.wordpress.com&amp;blog=4841358&amp;post=64&amp;subd=joserizalj&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://joserizalj.wordpress.com/2008/10/29/mengapa-rupiah-anjlok-bunga-dikatrol/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/51bfa91a68506ea5bf81c1046c927364?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">joserizalj</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Equilibrium in Economics: A Historical Perspective</title>
		<link>http://joserizalj.wordpress.com/2008/10/28/equilibrium-in-economics-a-historical-perspective/</link>
		<comments>http://joserizalj.wordpress.com/2008/10/28/equilibrium-in-economics-a-historical-perspective/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2008 18:19:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jose Rizal Joesoef</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://joserizalj.wordpress.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[By Jose Rizal Joesoef (joserizalj@yahoo.co.id) PENDAHULUAN Mungkin, salah satu titik kritis dalam pengajaran ekono­mika adalah konsep keseimbangan (equilibrium). Konsep ini, menurut ekonomika matematis, menunjuk kepada suatu titik potong (atau titik singgung) dari pertemuan dua countervailing forces yang bergerak berlawanan, misalnya, antara kurva permintaan vis-à-vis kurva pena­waran, antara kurva indiferen vis-à-vis garis ang­garan, antara kurva biaya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joserizalj.wordpress.com&amp;blog=4841358&amp;post=47&amp;subd=joserizalj&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">By <strong>Jose Rizal Joesoef </strong>(<a href="mailto:joserizalj@yahoo.co.id">joserizalj@yahoo.co.id</a>)</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Verdana;">PENDAHULUAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">Mungkin, salah satu titik kritis dalam pengajaran ekono­mika adalah konsep keseimbangan (<em>equilibrium</em>). Konsep ini, menurut ekonomika matematis, menunjuk kepada suatu titik potong (atau titik singgung) dari pertemuan dua <em>countervailing forces</em> yang bergerak berlawanan, misalnya, antara kurva permintaan <em>vis-à-vis </em>kurva pena­waran, antara kurva indiferen <em>vis-à-vis</em> garis ang­garan, antara kurva biaya marginal <em>vis-à-vis</em> garis penerimaan marginal, dll. Titik potong/singgung dua kurva tersebut seperti sudah menjadi sebuah <em>magical point</em>, yang mendikte dua <em>countervailing forces</em> tersebut untuk “berkom­promi” sampai kepada <em>outcome</em>, yang dinamakan <em>equilibrium point </em>tertentu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">Adam Smith (yang sudah terlanjur diklaim seba­gai <em>Godfather</em>-nya ilmu ekonomi) sudah <span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">mengimplisitkan</span>kon­sep tersebut dalam konteks <em>division of labor</em>. Menurut Smith: “<em>The gen­eral industry of the society never can exceed what the capital of the soci­ety employ</em>.” Hal ini disebabkan: “<em>Every individual is continually ex­erting himself to find out the most advantegous employ­ment for what­ever capital he can command</em>.” Dalam alinea berikut­nya, Smith mengatakan: “<em>But the annual revenue of every society is always equal to the exchangeable value of the whole annual produce of its industry, or rather is precisely the same thing with that exchangeable value.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Saya hendak mengangkat isu: Apakah pengertian <em>equilibrium </em>menurut ekonomika? Apakah saya dikatakan <em>equilibrium </em>ketika saya duduk santai dengan se­cangkir kopi panas racikan <em>Sido Mulyo </em>dan ditemani liukan asap ro­kok <em>Dji Sam Soe</em>? Atau, <em>the last but not the least</em>, saya dikatakan <em>disequilibrium </em>ketika saya menjadi emosional (mudah tersinggung dan marah) ketika penulisan ar­tikel ini menderita kebuntuan?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Verdana;text-transform:uppercase;" lang="SV"><em>Equilibrium </em>menurut Kamus</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Terlebih dahulu, mari disimak definisi <em>equilibrium</em> me­nu­rut kamus Microsoft Bookshelf 2000, yaitu:</span></p>
<ul>
<li><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">A condition in which all acting influences are canceled by oth­ers, resulting in a stable, balanced, or unchanging sys­tem. </span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">Mental or emotional balance; poise. </span></li>
<li><em><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">Physics</span></em><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">. The state of a body or physical system at rest or in unaccelerated motion in which the resultant of all forces acting on it is zero and the sum of all torques about any axis is zero. </span></li>
<li><em><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">Chemistry</span></em><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">. The state of a chemical reaction in which its for­ward and reverse reactions occur at equal rates so that the concentration of the reactants and products does not change with time. </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">Sedangkan menurut <em>Collins Dictionary of Economics</em>, <em>equilibrium </em>dipahami sebagai <em>a state of balance with no tendency to change</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">Kata <em>&#8220;equilibrium</em>&#8221; sebenarnya diadopsi dari bahasa latin <em>&#8220;aequilībrium</em>&#8221; yang berawalan <em>aequi</em></span><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US">&#8211;</span><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">yang berkonotasi <em>equi</em>, dan <em>lībra</em> yang bermakna seimbang (<em>balance</em>), stabil, tidak bergerak, dan/atau tidak berubah. Dalam bahasa Indonesia, <em>equilibrium</em> biasanya diterjemahkan sebagai keseim­bangan (atau kesetim­bangan).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-family:Verdana;text-transform:uppercase;">Equilibrium</span></em><span style="font-family:Verdana;text-transform:uppercase;"> menurut Ekonomika</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">Menurut Adam Smith (1723-1790), keseimbangan (atau kondisi <em>equal(ity)</em>) terjadi apabila tenaga kerja secara terus-menerus berusaha mencari <em>exchangeable value</em> dalam dirinya dalam interaksinya dengan industri, dan pada saat yang sama in­dustri/kapital juga beroperasi berdasarkan <em>advantegous employ­ment</em>. Thomas Robert Malthus (1766-1834) juga mengenal sesuatu yang—dalam bahasa kekinian—dinamakan keseim­bangan, yang ditimbulkan oleh “pergulatan” dua <em>countervailing forces</em> yang saling berseberangan yaitu: pertumbuhan penduduk <em>vis-à-vis </em>ke­tersediaan makanan. David Ricardo (1772-1823) juga bercerita se­suatu seperti <em>equlibrium point</em>, yaitu ketika tambahan jumlah mo­dal dan tambahan tenaga kerja dalam pengelolaan tanah, sama dengan tambahan rente yang dihasilkan dari pengelolaan tanah tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Meskipun Smith, Malthus, dan Ricardo tidak mengeks­plisit­kan kata keseimbangan menurut terminologi ekonomika kekinian, tetapi mereka menyiratkan kata itu. Smith menjamin bahwa: <em>The general industry of the society never can exceed what the capital of the society employ</em>; Malthus menakut-nakuti kita jika ter­jadi ketidakseimbangan antara pertumbuhan jumlah pen­duduk dengan ketersediaan makanan; sementara Ricardo mewas­padai gejala <em>diminishing return </em>ketika sebidang tanah tertentu menderita kelebihan kapital dan tenaga kerja.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Pengertian keseimbangan yang berkonotasi stabil, tidak berubah, dan/atau tidak bergerak, kemudian dieksplisitkan oleh pentolan-pentolan ekonomi, seperti Antoine-Augustin Cournot (1802-1866), Jules Dupuit (1804-1866), William Stanley Jevons (1835-1882), dan Alfred Marshall (1842-1924). </span><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">Mereka ini, dalam literatur, sering dicap sebagai kaum neoklasik karena mereka <em>“…. is united by its focus (the firm and/or the individual rather than the en­tire economy) and its abandonment of strictly objective considerations in its formulation of value.” </em>(Ekelund dan Hebert 1997:257).</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">Cournot (1802-1866) dalam bukunya: <em>Researches into the Mathematical Principles of the Theory of Wealth </em>yang terbit tahun 1838, menceritakan konsep keseimbangannya dalam kerangka te­ori duopoli, yaitu: dua perusahaan sejenis yang saling bersaing tetapi saling tergantung satu sama lain di dalam pasar duopolis. Perusahaan 1 (atau perusahaan 2) satu saling memberikan reaksi terhadap <em>quantity setting </em>yang dilakukan oleh perusahaan 2 (atau perusahaan 1), sehingga setiap perusahaan memiliki fungsi reaksi yang menggambarkan hubungan antara kuantitas perusahaan satu terhadap kuantitas perusahaan lainnya. Bagi Cournot, masing-masing perusahaan bisa “mengintip” <em>quantity setting </em>yang dilakukan perusahaan lawannya. Titik potong dua fungsi ini di­namakan keseimbangan. Bagi Cournot, keseimbangan adalah kondisi stabil di mana satu perusahaan tidak berkecenderungan untuk mengubah kuantitasnya dengan mempertimbangkan kuantitas perusahaan rivalnya.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">Dupuit (1804-1866), seorang praktisi bergelar insinyur me­sin, menjelaskan konsep keseimbangan (<em>equi</em>) dalam—konteks <em>marginal utility</em>—dalam bukunya <em>Theoretical and Practical Studies on the Movement of Running Water </em>(1848). Setiap konsumen, menurut Dupuit, <em>attaches a different utility to the same object according to the quantity he can consume</em>. Artinya, dalam benak Dupuit, setiap kon­sumen memiliki <em>marginal utility </em>(atau harga) yang seharusnya di­bayarnya. Dalam kata lain, konsumsi akan barang tertentu ter­gantung kepada <em>marginal utility </em>atau harga yang dibayarkan un­tuk penambahan/pengurangan konsumsi atas barang tersebut. <em>Marginal utility </em>yang “disematkan” oleh konsumen kepada suatu barang, yang juga merupakan harga seharusnya dibayarkan, adalah <em>equi-marginal utility</em>. Dari sini kita bisa membayangkan bahwa keseimbangan menurut Dupuit adalah kecocokan antara “batas psikologis” pada level utilitas (atau harga) berapa kon­sumen bersedia membayar dengan harga yang terjadi. Gam­pangnya kalau saya menyematkan utilitas sebesar Rp7.500 kepada rokok Marlboro, maka ketika rokok ini jatuh pada harga Rp5.000 (harga di bawah “batas keseimbangan” utilitas tersebut), maka saya mungkin akan memborong rokok Marlboro. </span><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Berdasar­kan argumen ini, Dupuit kemudian memperkenalkan istilah sur­plus konsumen dan surplus produsen.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">Jevons (1835-1882) dalam bukunya yang terbit tahun 1871 berjudul <em>Theory of Political Economy </em>meluncurkan <em>the law of indif­ference </em>dalam konteks <em>theory of exchange</em>. Menurut Jevons, <em>“… in the same open market, at any moment, there cannot be two prices for the same kind on article.” </em>Selanjutnya Jevons mengatakan bahwa <em>“When a commodity is perfectly uniform or homogenous in quality, any portion may be indifferently used in place of an equal portion.” </em></span><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Apabila hu­kum ini tidak terjadi—yaitu <em>diseqiulibrium</em>, maka akan terjadi ar­bitrasi. </span><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">Sampai kapan aktivitas arbitrasi ini terjadi? Jevons me­ngatakan bahwa <em>“Holders of commodities will be regarded not as con­tinuously passing on these commodities in streams of trade, but as pos­sessing certain fixed amounts which they exchange until they come to equilibrium.”</em> (Dome 1994:90-96).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">Dalam kerumunan tokoh-tokoh <em>marginalist</em> di atas, hanya Marshall yang dianggap paling menonjol. Alasannya adalah: <em>Per­tama</em>, paparan dia tentang analisis marginal dari beliau cukup lengkap dan jelas; <em>Kedua</em>, dia mendominasi literatur-literatur ekonomika mikro sekarang; dan <em>Ketiga</em>, dia menjadi guru pentolan-pentolan ekonom awal abad 20, seperti J. M. Keynes (termasuk bapaknya Keynes), A. C. Pigou, dan Joan Robinson (lihat Buchholz 1990:143). Buku yang melejitkan Marshall adalah: <em>Principles of Economics </em>yang pertama kali terbit tahun 1890.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">Dalam bukunya, Marshall mengambil alih semua imaginasi <em>equilibrium</em> dari kaum neoklasik sebelumnya. </span><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Menurut Mar­shall, keseimbangan adalah sebuah analisis yang melibatkan proses eliminasi berbagai faktor yang dianggapnya tidak relevan. Proses ini kemudian dikenal sebagai <em>ceteris paribus</em>. Analisis ke­seimbangan ini dipakai untuk menjelaskan adanya dua <em>counter­vailing forces </em>baik dalam, misalnya, teori perilaku konsumen (garis anggaran <em>vis-à-vis </em>kurva indiferens), dalam teori perilaku pro­dusen (biaya marginal <em>vis-à-vis </em>penerimaan marginal), atau teori pasar (kurva permintaan <em>vis-à-vis </em>kurva penawaran). </span><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">Marshall mengibaratkan dua <em>countervailing forces </em>tersebut seperti sepasang pisau gunting, bahwasanya <em>“When one blade is held still, and the cutting is affected by moving the other, we may say with careless brevity that the cutting is done by the second ….” </em>(Dome 1994:153).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-family:Verdana;text-transform:uppercase;">Partial Equilibrium</span></em><span style="font-family:Verdana;text-transform:uppercase;"> dan <em>General Equilibrium</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">Melihat dari kejauhan hiruk-pikuknya pergulatan pemikiran para kaum marginalis, tiba-tiba muncul Leon Walras (1834-1910) yang mengusung pendekatan <em>general equilibrium</em>. Menurut Walras, siapapun yang belum memaksimumkan utilitasnya akan menderita <em>excess demand </em>sekaligus <em>excess supply</em>. Tujuan dari <em>ex­change </em>adalah memaksimumkan utilitas, yang berarti mem­buang <em>excess supply </em>untuk memperkecil <em>excess demand</em>. Oleh kare­na itu, segala upaya untuk mengadakan <em>exchange </em>akan mempe­ngaruhi nilai (<em>value</em>) seluruh barang dalam perekonomian. </span><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Dalam kata lain, aktivitas produksi dan konsumsi adalah saling bergan­tung satu sama lain. Ini adalah inti dari karya Walras berjudul <em>Element of Pure Economics </em>yang terpublikasi pada tahun 1874.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Pemikiran Walras dapat disederhanakan sebagai berikut: Anggap ada dua jenis komoditi (1 dan 2) yang saling dipertu­kar­kan di antara dua individu (1 dan 2). Sebelum pertukaran, indi­vidu 1 memegang komoditi 1 <em>q</em><sub>11</sub> dan komoditi 2 <em>q</em><sub>12</sub> sementara individu 2 mempunyai komoditi 1 <em>q</em><sub>21</sub> dan komo­diti 2 <em>q</em><sub>22</sub>. Mela­lui pertukaran, individu 1 mengubah komo­diti 1 sebe­sar <em>x</em><sub>11</sub> dan komoditi 2 sebesar <em>x</em><sub>12</sub> sementara individu 2 me­ngu­bah komoditi 1 sebesar <em>x</em><sub>21</sub> dan komoditi 2 sebesar <em>x</em><sub>22</sub>. (Kita bisa mengatakan bahwa <em>x</em><sub>11</sub> dan <em>x</em><sub>12</sub> analog dengan ∆<em>q</em><sub>11</sub> dan ∆<em>q</em><sub>12</sub>; dan <em>x</em><sub>21</sub> dan <em>x</em><sub>22</sub> analog dengan ∆<em>q</em><sub>21</sub> dan ∆<em>q</em><sub>22</sub>).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Akibat dari pertukaran individu 1 dapat mengkonsumsi <em>q</em><sub>11</sub> + <em>x</em><sub>11</sub> (atau <em>q</em><sub>11</sub> + ∆<em>q</em><sub>11</sub>); dan individu 2 dapat mengkonsumsi <em>q</em><sub>21</sub> + <em>x</em><sub>21</sub> (atau <em>q</em><sub>21</sub> + ∆<em>q</em><sub>21</sub>). Jika positif, maka <em>x<sub>ij</sub></em> adalah <em>demand</em>; se­men­tara jika negatif, maka <em>x<sub>ij</sub></em> adalah <em>supply</em>. Permintaan harus sa­ma dengan penawaran. Artinya, individu 1 dan 2 harus tunduk kepada <em>p</em><sub>1</sub><em>x</em><sub>11</sub> + <em>p</em><sub>2</sub><em>x</em><sub>12</sub> = 0 dan <em>p</em><sub>1</sub><em>x</em><sub>21</sub> + <em>p</em><sub>2</sub><em>x</em><sub>22</sub> = 0. Jika kita nyatakan <em>p</em> = <em>p</em><sub>2</sub>/<em>p</em><sub>1</sub> dan <em>p</em><sub>1</sub> = 1 (<em>numeraire</em>) maka <em>x</em><sub>11</sub> + <em>px</em><sub>12</sub> = 0 dan <em>x</em><sub>21</sub> + <em>px</em><sub>22</sub> = 0, dan kemudian keduanya dijumlahkan, maka kita mendapatkan <em>x</em><sub>11</sub> + <em>x</em><sub>12</sub> + <em>p</em>(<em>x</em><sub>12</sub> + <em>px</em><sub>22</sub>) = 0. Inilah yang dinamakan Walras’s Law.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Diceritakan oleh Ekelund dan Herbert (1997:382-398) betapa Walras, jagoan dalam matematika, mengalamatkan bukunya kepa­da Marshall. Walras menuduh bahwa keseimbangan yang dimaksud Marshall bukanlah keseimbangan yang sebenarnya. <em>Marshallian equilibrium </em>terlalu parsial, tidak mempertim­bangkan aspek <em>interindependence</em>, dan dipastikan oleh Walras mengandung <em>excess demand </em>dan <em>excess supply</em>. Pendek kata, Walras menuduh Marshall terlalu berani mengklaim sebuah keseimbangan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Meskipun demikian, analisis <em>Walrasian general equilibrium </em>bu­kan tanpa masalah. Walras kurang meyakinkan dalam men­je­laskan bagaimana <em>equilibrium in general </em>dapat terjadi. </span><span style="font-family:Verdana;">Menu­rut­nya, keseimbangan terjadi melalui proses </span><em><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">tâtonnement </span></em><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">yaitu <em>“… the demonstration of the attainment of that equilibrium through the play of the raising and the lowering of prices until the equality of supply and demand quantities is established” </em>(Dome 1994:109).Adanya proses <em>tâtonnement </em>memunculkan pertanyaan: Apakah keseimbangan kompetitif dimungkinkan terjadi? Jika terdapat <em>disturbance</em>, da­patkah <em>Walrasian system </em>bergerak kembali menuju <em>equilibrium</em>?</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Dua pertanyaan ini sangat merisaukan Vilfredo Pareto (1848-1923), murid sekaligus teman korespondensi Walras. </span><span style="font-family:Verdana;">Menu­rut Pareto (dalam bukunya <em>Treatise on General Sociology</em>, 1916) mengatakan bahwa masyarakat ditegakkan oleh individu-indi­vidu yang senantiasa mengarah ke keseimbangan, yaitu pemu­lihan sete­lah terjadi konflik atau pergolakan. Individu-individu saling mem­pengaruhi, agar keseimbangan tercapai. Ada dua daya (<em>stabilizing force</em>) yang me­mungkinkan terjadinya pemulihan keseimbangan, yaitu:</span></p>
<ul>
<li><span style="font-family:Verdana;">Setiap individu cenderung menggabungkan hal-hal yang tidak ada hu­bungannya satu sama lain, sehingga menjadi kombinasi baru. </span><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Mereka juga cenderung bersatu dengan orang lain, me­neladani, dan menyesuai­kan diri dengan mayoritas. </span><span style="font-family:Verdana;">Kecen­derungan ini disebut <em>the instinct of combi­nation</em>.</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Setiap individu cenderung mempertahankan kombinasi yang telah di­buat­nya, dan menjaga diri (hati-hati) sebagai individu yang utuh. Kecen­de­rungan ini disebut <em>the persistance of aggre­gates</em>.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Akibat pengaruh daya pertama, individu selalu aktif menca­ri kom­binasi-kombinasi baru. Bahkan, individu mencoba mencari hubungan kausal dua realitas yang tidak ada hubungan­nya sama sekali. Misalkan, seseorang mengasosiasikan malape­taka yang menimpa dirinya dengan perbuatan yang ia alami sebelumnya; menghubungkan takhayul dengan teori-teori ilmiah; menghu­bungkan nasionalisme dengan kebijakan ekono­mi; dan lain-lain. Akibat pengaruh daya kedua, manusia segan akan adanya peru­bahan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">PENUTUP</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Ada beberapa <em>point</em> penting dari paparan saya di atas, yaitu:</span></p>
<ul>
<li><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">Diskusi tentang <em>equilibrium </em>pasti melibatkan dua atau lebih <em>countervailing forces</em>.</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">Konsep <em>partial equilibrium</em> atau <em>general equilibrium</em>, pada dasarnya, berbicara tentang <em>a degree of abstraction</em> (atau dera­jad <em>ceteris paribus</em>).</span></li>
<li><em><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">Equilibrium</span></em><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US"> mengkonotasikan suatu kondisi yang diinginkan oleh manusia.</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">Konsep <em>equilibrium </em>tidak besangkut-paut dengan kemam­puan matematika untuk mengeksposisikan, tetapi mengacu kepada kemampuan individu untuk mencapainya.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Jadi, saya mungkin dalam kondisi <em>equilibrium </em>ketika saya duduk santai dengan secangkir kopi panas racikan <em>Sido Mulyo </em>dan dengan sebatang rokok <em>Dji Sam Soe </em>yang asapnya meliuk-liuk. Atau, tiba-tiba menjadi <em>dis­equilibrium</em> (marah)<em> </em>ketika kopi yang hendak saya minum, tersenggol anak saya sehingga tumpah. Jika ini terjadi, usaha untuk membuat secangkir kopi lagi tentu dapat membuat saya <em>equlibrium </em>lagi (meskipun dengan sedikit ngomel-ngomel dalam rangka menuju <em>new equilibrium</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dalam literatur ekonomika dikenal istilah <em>Paretian equilibrium</em>, yaitu, ketika saya menjadi <em>better off </em>tanpa membuat anak saya <em>worse off</em>. Mungkin, ketika saya enak-enakan (<em>better off</em>), saya belum menyadari bahwa anak saya <em>worse off </em>karena membutuhkan perhatian dari saya. Jika demikian, masalah saya bukan membuat kopi panas lagi, tetapi bagaimana membuat saya <em>better off </em>seraya membuat anak terperhatikan oleh saya.</span></span></span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">.</span></span></span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Verdana;">Daftar Pustaka</span></strong></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<ul>
<li><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">Buchholz, T. G. (1990), <strong><em>New Ideas from Dead Economists: An Introduction to Modern Economic Thought</em></strong>, New York: A Plume Book.</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">Dome, T. (1994), <strong><em>History of Economic Theory: A Critical Intro­duction</em></strong>, Aldershot: Edward Elgar.</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">Doti, J. L. dan Dwight R. L. (1991), <strong><em>The Market Economy: A Reader</em></strong>, Los Angeles: Roxbury Publishing Company.</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">Ekelund, Jr., R. B. dan R. F. Hebert (1997), <strong><em>A History of Eco­nomic Theory and Method</em></strong>, New York: McGraw-Hill.</span></li>
</ul>
<p><span style="font-family:Verdana;" lang="EN-US">.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"> <strong>Catatan Kaki</strong></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[1]</span></span>&lt;!&#8211;[endif]&#8211;&gt;</span></span></span></a><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Adam Smith dalam <em>abridged article </em>(dari Wealth of Nations, 1937) yang diberi judul: “Of the Division of Labour and Restraints upon Importation,” oleh James L. Doti dan Dwight R. Lee (1991), <em>The Market Economy: A Reader</em>, Los Angles: Roxbury Publishing Company. </span></p>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[2]</span></span>&lt;!&#8211;[endif]&#8211;&gt;</span></span></span></a><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dalam literatur ekonomika dikenal istilah <em>Paretian equilibrium</em>, yaitu, ketika saya menjadi <em>better off </em>tanpa membuat anak saya <em>worse off</em>. Mungkin, ketika saya enak-enakan (<em>better off</em>), saya belum menyadari bahwa anak saya <em>worse off </em>karena membutuhkan perhatian dari saya. Jika demikian, masalah saya bukan membuat kopi panas lagi, tetapi bagaimana membuat saya <em>better off </em>seraya membuat anak terperhatikan oleh saya.</span></p>
</div>
</div>
<br />Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/joserizalj.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/joserizalj.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/joserizalj.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/joserizalj.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/joserizalj.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/joserizalj.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/joserizalj.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/joserizalj.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/joserizalj.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/joserizalj.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/joserizalj.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/joserizalj.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/joserizalj.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/joserizalj.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joserizalj.wordpress.com&amp;blog=4841358&amp;post=47&amp;subd=joserizalj&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://joserizalj.wordpress.com/2008/10/28/equilibrium-in-economics-a-historical-perspective/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/51bfa91a68506ea5bf81c1046c927364?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">joserizalj</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Yang Dimaksud dengan Ekonomika?</title>
		<link>http://joserizalj.wordpress.com/2008/10/28/apakah-yang-dimaksud-dengan-ekonomika/</link>
		<comments>http://joserizalj.wordpress.com/2008/10/28/apakah-yang-dimaksud-dengan-ekonomika/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2008 06:45:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jose Rizal Joesoef</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Apakah Yang Dimaksud dengan Ekonomika?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://joserizalj.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN Apa ekonomika (= ilmu ekonomi) itu? Apa yang anda harapkan setelah mempe­lajarinya? Pertanyaan ini tidaklah mudah untuk dijawab. Anda jangan berharap banyak dari kamus, yang dengan enteng mengatakan bahwa ekono­mika—yang berasal dari bahasa Latin oikonomia—adalah sebuah studi yang bersangkut-paut dengan aktivitas: Produksi Konsumsi, dan Perdagangan. Pengertian ini rasanya sudah kuno! Tentang ekonomika, anda jangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joserizalj.wordpress.com&amp;blog=4841358&amp;post=28&amp;subd=joserizalj&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"><strong>PENDAHULUAN</strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Apa ekonomika (= ilmu ekonomi) itu? </span><span style="font-family:Verdana;">Apa yang anda harapkan setelah mempe­lajarinya? Pertanyaan ini tidaklah mudah untuk dijawab. Anda jangan berharap banyak dari kamus, yang dengan enteng mengatakan bahwa ekono­mika—yang berasal dari bahasa Latin <em>oikonomia</em>—adalah sebuah studi yang bersangkut-paut dengan aktivitas:</span></p>
<ul>
<li><span style="font-family:Verdana;">Produksi</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Konsumsi, dan </span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Perdagangan. </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Pengertian ini rasanya sudah kuno! Tentang ekonomika, anda jangan berharap banyak dari saya. Tetapi, saya akan bercerita tentang ekonomika sejauh yang saya ketahui.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Rasanya lebih mudah menjelaskan ekonomika dengan menempatkan diri kita sebagai pelaku ekonomi. <em>Sorry</em>, kalau saya terpaksa men­de­finisikan anda plus saya sebagai “kita.” Saya akan menyebut yang bukan anggota kita sebagai “mereka.” Kalau pembaca tidak sepakat dengan “kita” ini, tutup artikel ini. Tapi saya mempunyai derajad keyakinan 95% bahwa orang lain yang membaca artikel ini akan menjadi “kita.” (Hehehe…) Definisikan saja, kita adalah bukan mereka dan mereka adalah bukan kita.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Verdana;">HIDUP PENUH DENGAN PILIHAN AKTIVITAS<br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Saya yakin, hampir semua orang banyak maunya, tidak peduli apakah laki atau wanita, tua atau muda, orang Arab atau Cina, orang pegunungan atau orang pesisir, orang berpendidikan tinggi atau orang berpendidikan rendah, orang pintar atau goblok, dll. Termasuk kita. Misalnya,</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<ul>
<li><span style="font-family:Verdana;">Sebelum berangkat ke kantor/kampus, maunya kita bersenam pagi dulu, lalu mandi, sarapan, minum kopi sambil membaca koran. </span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Di dalam toko elektronik, maunya kita membeli TV 50 inci, <em>microwave</em>, <em>vacuum cleaner</em>, kulkas empat pintu, mesin cuci, dll.</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Di dalam supermarket Ramayana, maunya kita membeli sepatu, baju, celana, parfum, jam tangan, dll. </span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Mendekati usia pensiun, maunya kita mendapat gelar profesor, gelar haji, menduduki jabatan komisaris, punya vila dan lahan pertanian, punya mantu yang kaya, dll.</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Mumpung si istri masih tinggal di luar kota, maunya kita mengencani teman kerja kita yang cantik-cantik, si Tutik, si Tutuk, si Tutut, si Tatik.</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Mumpung dekat sama kekuasaan, maunya kita dapat jabatan dirjen, komisaris BUMN, rektor universitas, gelar profesor, ketua partai politik, dll.</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Mumpung masih menjabat, maunya kita dapat duit dari pos anggaran pembangunan fisik, dari pos anggaran non fisik, dari pelaksana proyek, dari sisa perjalanan ke luar negeri, dan dari yang lainnya.</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Menjelang berbuka puasa, maunya kita takjil dulu dengan korma, es teler, es soda gembira, nenggak <em>supplement drink</em>, kemudian makan ayam goreng lalapan plus sate kelinci plus ikan lele, dll.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Dengan kata lain, kita ini sebenarnya makhluk yang serakah (<em>greedy</em>), atau paling tidak mempunyai kecenderungan untuk menjadi serakah. <em>Nah</em>, kalau boleh saya membuat rumus umumnya, kira-kira bunyinya begini: </span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"><strong>Orang yang mempunyai banyak pilihan aktivitas adalah orang yang banyak maunya, semakin banyak aktivitas yang dipertimbangkan untuk dilakukan, sema­kin banyak maunya.</strong> </span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Kita pasti setuju dengan <em>general statement</em> ini. Kalau tidak setuju, segera tutup artikel ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Verdana;">MENGAPA HARUS MEMILIH?<br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Namun sayang, keinginan-keinginan yang kita daftar baik di selembar kertas atau sekedar dibayangkan di dalam benak kita, tidak semuanya bisa diwujudkan dalam aktivitas-aktivitas. Kalau pun mungkin bisa terwujud semuanya, aktivitas-aktivitas itu tidak bisa dilaksanakan secara simultan. Dengan kata lain, pada titik di mana kita memiliki banyak keinginan (<em>want</em>) dalam wujud aktivitas-aktivitas, paling tidak dua aktivitas, maka segera—secara sadar atau tidak—kita dipaksa untuk memilih.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Kita harus memilih karena kita menderita kelangkaan (<em>scarcity</em>). Kelangkaan apa? Kalau boleh saya ambil intinya adalah kelangkaan akan adanya uang, tenaga (<em>power</em>), dan waktu yang kita kuasai. Misalnya:</span></p>
<ul>
<li><span style="font-family:Verdana;">Maunya pemerintah mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Tapi berhubung sumber anggaran negara terbatas, terpaksa subsidi BBM dialihkan ke sebagian rakyat saja.</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Karena bangun kesiangan sehingga waktunya terbatas, kita terpaksa berangkat ke kantor tanpa mandi dan sarapan, kemudian berangkat lewat tengah kota atau pinggir kota; atau mbolos saja.</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Daripada capek-capek, saya membuang puntung rokok di sini saja ketimbang berjalan kaki 100 meter menuju tong sampah.</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Karena uangnya mepet, seorang mahasisiwa (dan dosen) membeli buku bajakan yang lebih murah.</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Karena merasa waktu dan uangnya pas-pasan, kita memilih berkencan dengan sekretaris kita di kantor saja setelah jam kerja.</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Bagi yang suka berselingkuh pun juga harus memilih, apakah berkencan di dalam kota, di luar kota, atau di kantor saja; dikawin, disiri, “digantung” saja. </span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Mau ngrampok bank kita juga harus memilih, apakah Bank BNI atau Bank BCA, kantor cabang atau kantor cabang pembantu, membawa clurit, pistol, atau tanpa senjata. Bahkan kalau kepergok, apakah membunuh korban atau ketahuan identitas kita. </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Oleh karena uang, waktu, dan <em>power </em>sedemikian langkanya sehingga secara intuitif membuat kita tidak berdaya. maka tiga kata ini digabung saja menjadi satu kata, yaitu: sumberdaya (<em>resources</em>). Dengan demikian kita bisa membuat <em>general statement</em> tentang kelangkaan sehubungan dengan ketersediaan sumberdaya, yaitu: </span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Verdana;">Kelangkaan (<em>scarcity</em>) terjadi ketika kita banyak maunya sementara sumberdaya yang kita kuasai dirasa langka adanya. </span></strong></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Kalau anda ingin mengatakan dalam bahasa Inggris supaya terdengar agak mewah adalah: Kelangkaan terjadi ketika kita menderita <em>limited resources among unlimited wants</em>. Inilah jawaban atas pertanyaan mengapa kita harus memilih.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Verdana;">BAGAIMANAKAH AKTIVITAS DIPILIH?<br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Dalam proses menyeleksi banyak aktivitas, sampai menjatuhkan pilihan pada satu aktivitas, kita pasti punya kriteria. </span><span style="font-family:Verdana;">Kriteria utama yang sudah pasti kita pertimbangkan adalah kriteria yang berkonotasi “enak” seperti </span></p>
<ul>
<li><span style="font-family:Verdana;">Menguntungkan</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Memuaskan </span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Mensejahterakan</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Menyenangkan, atau </span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Mengasyik­kan. </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Atau, jika kriteria enak ini dinyatakan sebagai kata sifat (<em>adjective</em>) adalah kaya, murah, aman-tentram, pintar, cantik, <em>sexy</em>, terkenal, dan lain-lain. Indikasi dari adanya sisi yang enak ini, oleh ekonom, dinamakan penerimaan (<em>revenue</em>) atau manfaat (<em>benefit</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Namun dari pengalaman puluhan tahun menghirup udara bumi ini, ternyata tidak ada satu aktivitas pun yang isinya enak saja. Dalam setiap aktivitas, pasti ada sisi yang nggak enak, misalnya </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<ul>
<li><span style="font-family:Verdana;">Mau untung dalam bisnis, ya mengeluarkan biaya modal dulu</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Mau puas, ya putar-putar dulu membuang waktu dan tenaga untuk mendapatkan barang yang pas harga dan kualitasnya.</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Mau lulus ujian, ya belajar dulu sampai subuh.</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Mau kelihatan cantik dan <em>sexy</em>, ya berlapar-lapar dulu dalam rangka diet plus <em>fitness </em>seminggu tiga kali.</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Mau dapat duit dari mbobol bank, ya harus menyiapkan dana operasional untuk anak buah kita, termasuk dana untuk nyogok aparat hukum. </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Indikasi dari adanya sisi yang nggak enak ini, oleh ekonom, dinamakan pengeluaran (<em>expense</em>) atau biaya (<em>cost</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Oleh karena dalam setiap aktivitas mengandung unsur enak dan nggak enaknya, di mana enak = manfaat dan nggak enak = biaya, maka insting kita akan mengarahkan kepada kriteria aktivitas sebagai berikut</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong><span style="font-family:Verdana;">enak &gt; nggak enak</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">atau kata ekonom, <em>benefit</em>-nya harus lebih besar dari <em>cost</em>-nya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Ekonom memberikan banyak nama kepada selisih atau jarak antara <em>benefit </em>dan <em>cost </em>dari sebuah aktivitas. Untuk kasus di mana <em>benefit </em>lebih besar daripada <em>cost, </em>selisih keduanya dinamakan, antara lain:</span></p>
<ul>
<li><span style="font-family:Verdana;">Laba (<em>profit </em>atau <em>gain</em>)</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Kepuasan (<em>utility</em>)</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Kesejahteraan (<em>welfare</em>)<br />
</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Untuk kasus di mana <em>benefit </em>lebih kecil daripada <em>cost</em>, selisih keduanya dinamakan, antara lain:</span></p>
<ul>
<li><span style="font-family:Verdana;">Rugi (<em>loss</em>)</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Ketidakpuasan (<em>disutility</em>)</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Ketaksejahteraan (<em>diswelfare</em>)<br />
</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Kalau dalam sebuah aktivitas, <em>benefit </em>dan <em>cost</em>-nya sama bagaimana? Ekonom bilang itu adalah kondisi pulang pokok atau <em>break-even</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Jadi, jawaban atas pertanyaan bagaimana aktivitas dipilih, bisa diformulasikan sebagai berikut: </span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Verdana;">Di dalam setiap aktivitas, pasti ada sisi <em>benefit </em>dan sisi <em>cost</em>-nya. Maunya orang adalah memilih aktivitas yang <em>benefit</em>-nya lebih besar daripada <em>cost</em>-nya, atau <em>cost</em>-nya lebih kecil daripada <em>benefit</em>-nya.</span></strong></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Saya tidak percaya kalau anda tidak setuju dengan <em>statement </em>ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Verdana;">PENUTUP (<em>last but not least</em>)<br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Sekarang coba dibayangkan jika saya dan kita semua (termasuk “mereka”) menderita kelangkaan, yaitu sumberdaya yang kita dan mereka kuasai dirasa ter­ba­tas, tetapi maunya kita dan mereka tidak terbatas. Secara ekstrem, semua orang merasa menderita langka, dan semua orang banyak mau­nya. Secara intuitif bisa dibayangkan apa yang akan terjadi, yaitu dulu-duluan, rebutan, dan sikut-sikutan di antara satu orang <em>vis-à-vis</em> orang lainnya untuk menguasai sumberdaya. Dalam bahasa Inggris, terjadi gesekan antara <em>each one against the others</em>. Singkat kata, yang terjadi adalah rivalitas.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Situasi rivalitas ini, dalam konteks yang lebih sempit, pasti sering kita lihat. Misalnya, </span></p>
<ul>
<li><span style="font-family:Verdana;">Kita nyikut teman sekantor supaya gagal menduduki jabatan yang kita incar. </span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Kita nyokot teman sekomplotan supaya kita tidak dituntut dengan pasal berlapis. </span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Kalau dalam perdagangan, kita membanting harga agar pesaing kita bangkrut krut. </span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Kita membangun isu negatif terhadap lawan politik kita agar habis reputasinya. </span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Amerika membombardir Iraq agar ia bisa menguasai sumber jalur perdagangan minyak dunia. </span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Kita membunuh orang untuk bisa menguasai harta orang itu.</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">Kita <em>zig zag</em> di jalan sempit agar lebih cepat sampai di kantor. </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Berdasarkan uraian di atas, beberapa benang merah bisa ditarik untuk menjawab pertanyaan besar kita: “Apakah Ekonomika itu?” Jawaban yang bisa saya berikan adalah:</span></p>
<p class="MsoNormal">
<blockquote>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"><strong>Ekonomika (ilmu ekonomi) adalah bidang ilmu yang khusus mempelajari (1) perilaku orang-orang di antara kita, (2) perilaku orang-orang di dalam mereka-mereka, (3) perilaku kita <em>vis-à-vis </em>mereka, dalam menentukan sebuah aktivitas, di mana dianggap semua orang menderita keterbatasan sumberdaya (uang + waktu + <em>power</em>) di antara keinginan-keinginannya yang tidak terbatas. Aktivi­tas yang banyak enaknya atau sedikit nggak enaknya, akan diperebutkan oleh orang-orang di dalam (<em>within</em>) kita sendiri, dan oleh kita <em>vis-à-vis</em> mereka. </strong></span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Itulah ekonomika.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<br />Posted in Uncategorized Tagged: Apakah Yang Dimaksud dengan Ekonomika? <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/joserizalj.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/joserizalj.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/joserizalj.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/joserizalj.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/joserizalj.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/joserizalj.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/joserizalj.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/joserizalj.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/joserizalj.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/joserizalj.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/joserizalj.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/joserizalj.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/joserizalj.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/joserizalj.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joserizalj.wordpress.com&amp;blog=4841358&amp;post=28&amp;subd=joserizalj&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://joserizalj.wordpress.com/2008/10/28/apakah-yang-dimaksud-dengan-ekonomika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/51bfa91a68506ea5bf81c1046c927364?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">joserizalj</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Is Corruption (Bribery) in Indonesia Institutionally Strengthened?</title>
		<link>http://joserizalj.wordpress.com/2008/10/27/is-corruption-bribery-in-indonesia-insitutionally-strengthened/</link>
		<comments>http://joserizalj.wordpress.com/2008/10/27/is-corruption-bribery-in-indonesia-insitutionally-strengthened/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Oct 2008 02:56:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jose Rizal Joesoef</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Is Corruption (Bribery) in Indonesia Institutionally Strengthened?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://joserizalj.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Corruption is seemingly created by a collective action problem within society: each of individuals in the society demanding for resources allocated by their government official has an incentive to pay bribes to try to obtain special treatment, but all of them would all be better off if they could collectively commit not to pay bribes. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joserizalj.wordpress.com&amp;blog=4841358&amp;post=11&amp;subd=joserizalj&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if !mso]&gt;--></p>
<div class="O">
<div><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;">Corruption is seemingly created by a collective action problem <em>within </em>society: each of individuals in the </span><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;">society demanding for resources allocated by their government official has an incentive to pay bribes to try to obtain </span><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;">special treatment, but all of them would all be better off if they could collectively commit not to pay bribes.</span></div>
<div><span id="more-11"></span></div>
<div><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><!--[if !mso]&gt;--><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;">Consider “You” and “I” that belong to “We”. We, under competitive situation, suffer from scarcity (= limited resources among unlimited wants or unlimited </span><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;">activities). You/I have to choose an activity from available activities. Before choosing </span><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;"><em>the </em>activity, you/I have to compare one available activity from another based on benefit-cost consideration.</span></p>
<div class="O">
<div><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;"></p>
<p></span><!--[if !mso]&gt;--></p>
<div class="O">
<div><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;">In choosing </span><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;"><em>the </em></span><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;">activity, you and I are in an interdependent-strategic situation . What</span><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;">you/I choose </span><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;">depend on what I/you choose. (This is a game-theoretic perspective!). Assume that there are two alternative strategies available for you and me: (1) paying bribes or (2) not paying bribes. </span></div>
</div>
</div>
</div>
<p><!--[if !mso]&gt;--><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;">At first</span><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;"> (<em>ex ante</em>), all of us collectively might agree (under moral considerations) not to pay bribes. But (<em>ex post</em>), </span><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;">each one is &#8220;trapped&#8221; into paying bribes (because each one has incentives to do so) unless no one pays bribes first. So there is a Nash equilibrium point: everyone pays bribes. <strong>As if, everyone is coordinated by “the bribe-paying choice”.</strong> (</span><!--[if !mso]&gt;--><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;">A Nash equilibrium can be interpreted as a pair of expectations about each person’s choice such that, when the other person’s choice is revealed, neither individual wants to change his/her behavior.</span><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;">)<br />
</span></p>
<p><!--[if !mso]&gt;--></p>
<div class="O">
<div><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;">If so, corruption (bribery) could be considered as </span><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;">convention </span></strong><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;">(Lewis 1969/2002): I know that you expect to pay bribes, </span><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;">and you know that I expect to pay bribes. You know that…., and I know that…. Everyone expects another </span><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;">one to pay bribes. Everyone knows that each one expects another one to pay bribes. (Even you insist that </span><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;">you actually did not pay bribes, one might accuse you of having paid bribes). </span><!--[if !mso]&gt;--><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;">The bribe-paying choice becomes </span><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;">common knowledge</span><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;"> for you and me.</span></div>
<div><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;"><br />
</span></div>
<div><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;">The issue to be raised is: <strong>&#8220;</strong></span><!--[if !mso]&gt;--><span style="font-family:Verdana;font-size:12pt;color:black;" lang="EN-US"><strong>Is bribery being such a convention that everyone expects another one to pay bribes to try to get special treatment from (corruptible) public officials?&#8221;.</strong> </span><!--[if !mso]&gt;--><span style="font-family:Verdana;font-size:12pt;" lang="EN-US">If the question is empirically proved to be correct, three things need to be explained: (1) how </span><span style="font-family:Verdana;font-size:12pt;" lang="EN-US"><em>the </em></span><span style="font-family:Verdana;font-size:12pt;" lang="EN-US">convention arise, (2) how </span><span style="font-family:Verdana;font-size:12pt;" lang="EN-US"><em>the </em></span><span style="font-family:Verdana;font-size:12pt;" lang="EN-US">convention is maintained, and (3) How </span><span style="font-family:Verdana;font-size:12pt;" lang="EN-US"><em>the </em></span><span style="font-family:Verdana;font-size:12pt;" lang="EN-US">convention displaces another.</span></div>
</div>
</div>
</div>
<a href="http://polldaddy.com/poll/1064240/">View This Poll</a>
<a href="http://polldaddy.com/poll/1064298/">View This Poll</a>
<br />Posted in Uncategorized Tagged: Is Corruption (Bribery) in Indonesia Institutionally Strengthened? <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/joserizalj.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/joserizalj.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/joserizalj.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/joserizalj.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/joserizalj.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/joserizalj.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/joserizalj.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/joserizalj.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/joserizalj.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/joserizalj.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/joserizalj.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/joserizalj.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/joserizalj.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/joserizalj.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joserizalj.wordpress.com&amp;blog=4841358&amp;post=11&amp;subd=joserizalj&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://joserizalj.wordpress.com/2008/10/27/is-corruption-bribery-in-indonesia-insitutionally-strengthened/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/51bfa91a68506ea5bf81c1046c927364?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">joserizalj</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
