Equilibrium in Economics: A Historical Perspective

By Jose Rizal Joesoef (joserizalj@yahoo.co.id)

PENDAHULUAN

Mungkin, salah satu titik kritis dalam pengajaran ekono­mika adalah konsep keseimbangan (equilibrium). Konsep ini, menurut ekonomika matematis, menunjuk kepada suatu titik potong (atau titik singgung) dari pertemuan dua countervailing forces yang bergerak berlawanan, misalnya, antara kurva permintaan vis-à-vis kurva pena­waran, antara kurva indiferen vis-à-vis garis ang­garan, antara kurva biaya marginal vis-à-vis garis penerimaan marginal, dll. Titik potong/singgung dua kurva tersebut seperti sudah menjadi sebuah magical point, yang mendikte dua countervailing forces tersebut untuk “berkom­promi” sampai kepada outcome, yang dinamakan equilibrium point tertentu.

Adam Smith (yang sudah terlanjur diklaim seba­gai Godfather-nya ilmu ekonomi) sudah mengimplisitkankon­sep tersebut dalam konteks division of labor. Menurut Smith: “The gen­eral industry of the society never can exceed what the capital of the soci­ety employ.” Hal ini disebabkan: “Every individual is continually ex­erting himself to find out the most advantegous employ­ment for what­ever capital he can command.” Dalam alinea berikut­nya, Smith mengatakan: “But the annual revenue of every society is always equal to the exchangeable value of the whole annual produce of its industry, or rather is precisely the same thing with that exchangeable value.”

Saya hendak mengangkat isu: Apakah pengertian equilibrium menurut ekonomika? Apakah saya dikatakan equilibrium ketika saya duduk santai dengan se­cangkir kopi panas racikan Sido Mulyo dan ditemani liukan asap ro­kok Dji Sam Soe? Atau, the last but not the least, saya dikatakan disequilibrium ketika saya menjadi emosional (mudah tersinggung dan marah) ketika penulisan ar­tikel ini menderita kebuntuan?

.

Equilibrium menurut Kamus

Terlebih dahulu, mari disimak definisi equilibrium me­nu­rut kamus Microsoft Bookshelf 2000, yaitu:

  • A condition in which all acting influences are canceled by oth­ers, resulting in a stable, balanced, or unchanging sys­tem.
  • Mental or emotional balance; poise.
  • Physics. The state of a body or physical system at rest or in unaccelerated motion in which the resultant of all forces acting on it is zero and the sum of all torques about any axis is zero.
  • Chemistry. The state of a chemical reaction in which its for­ward and reverse reactions occur at equal rates so that the concentration of the reactants and products does not change with time.

Sedangkan menurut Collins Dictionary of Economics, equilibrium dipahami sebagai a state of balance with no tendency to change.

Kata “equilibrium” sebenarnya diadopsi dari bahasa latin “aequilībrium” yang berawalan aequiyang berkonotasi equi, dan lībra yang bermakna seimbang (balance), stabil, tidak bergerak, dan/atau tidak berubah. Dalam bahasa Indonesia, equilibrium biasanya diterjemahkan sebagai keseim­bangan (atau kesetim­bangan).

.

Equilibrium menurut Ekonomika

Menurut Adam Smith (1723-1790), keseimbangan (atau kondisi equal(ity)) terjadi apabila tenaga kerja secara terus-menerus berusaha mencari exchangeable value dalam dirinya dalam interaksinya dengan industri, dan pada saat yang sama in­dustri/kapital juga beroperasi berdasarkan advantegous employ­ment. Thomas Robert Malthus (1766-1834) juga mengenal sesuatu yang—dalam bahasa kekinian—dinamakan keseim­bangan, yang ditimbulkan oleh “pergulatan” dua countervailing forces yang saling berseberangan yaitu: pertumbuhan penduduk vis-à-vis ke­tersediaan makanan. David Ricardo (1772-1823) juga bercerita se­suatu seperti equlibrium point, yaitu ketika tambahan jumlah mo­dal dan tambahan tenaga kerja dalam pengelolaan tanah, sama dengan tambahan rente yang dihasilkan dari pengelolaan tanah tersebut.

Meskipun Smith, Malthus, dan Ricardo tidak mengeks­plisit­kan kata keseimbangan menurut terminologi ekonomika kekinian, tetapi mereka menyiratkan kata itu. Smith menjamin bahwa: The general industry of the society never can exceed what the capital of the society employ; Malthus menakut-nakuti kita jika ter­jadi ketidakseimbangan antara pertumbuhan jumlah pen­duduk dengan ketersediaan makanan; sementara Ricardo mewas­padai gejala diminishing return ketika sebidang tanah tertentu menderita kelebihan kapital dan tenaga kerja.

Pengertian keseimbangan yang berkonotasi stabil, tidak berubah, dan/atau tidak bergerak, kemudian dieksplisitkan oleh pentolan-pentolan ekonomi, seperti Antoine-Augustin Cournot (1802-1866), Jules Dupuit (1804-1866), William Stanley Jevons (1835-1882), dan Alfred Marshall (1842-1924). Mereka ini, dalam literatur, sering dicap sebagai kaum neoklasik karena mereka “…. is united by its focus (the firm and/or the individual rather than the en­tire economy) and its abandonment of strictly objective considerations in its formulation of value.” (Ekelund dan Hebert 1997:257).

Cournot (1802-1866) dalam bukunya: Researches into the Mathematical Principles of the Theory of Wealth yang terbit tahun 1838, menceritakan konsep keseimbangannya dalam kerangka te­ori duopoli, yaitu: dua perusahaan sejenis yang saling bersaing tetapi saling tergantung satu sama lain di dalam pasar duopolis. Perusahaan 1 (atau perusahaan 2) satu saling memberikan reaksi terhadap quantity setting yang dilakukan oleh perusahaan 2 (atau perusahaan 1), sehingga setiap perusahaan memiliki fungsi reaksi yang menggambarkan hubungan antara kuantitas perusahaan satu terhadap kuantitas perusahaan lainnya. Bagi Cournot, masing-masing perusahaan bisa “mengintip” quantity setting yang dilakukan perusahaan lawannya. Titik potong dua fungsi ini di­namakan keseimbangan. Bagi Cournot, keseimbangan adalah kondisi stabil di mana satu perusahaan tidak berkecenderungan untuk mengubah kuantitasnya dengan mempertimbangkan kuantitas perusahaan rivalnya.

Dupuit (1804-1866), seorang praktisi bergelar insinyur me­sin, menjelaskan konsep keseimbangan (equi) dalam—konteks marginal utility—dalam bukunya Theoretical and Practical Studies on the Movement of Running Water (1848). Setiap konsumen, menurut Dupuit, attaches a different utility to the same object according to the quantity he can consume. Artinya, dalam benak Dupuit, setiap kon­sumen memiliki marginal utility (atau harga) yang seharusnya di­bayarnya. Dalam kata lain, konsumsi akan barang tertentu ter­gantung kepada marginal utility atau harga yang dibayarkan un­tuk penambahan/pengurangan konsumsi atas barang tersebut. Marginal utility yang “disematkan” oleh konsumen kepada suatu barang, yang juga merupakan harga seharusnya dibayarkan, adalah equi-marginal utility. Dari sini kita bisa membayangkan bahwa keseimbangan menurut Dupuit adalah kecocokan antara “batas psikologis” pada level utilitas (atau harga) berapa kon­sumen bersedia membayar dengan harga yang terjadi. Gam­pangnya kalau saya menyematkan utilitas sebesar Rp7.500 kepada rokok Marlboro, maka ketika rokok ini jatuh pada harga Rp5.000 (harga di bawah “batas keseimbangan” utilitas tersebut), maka saya mungkin akan memborong rokok Marlboro. Berdasar­kan argumen ini, Dupuit kemudian memperkenalkan istilah sur­plus konsumen dan surplus produsen.

Jevons (1835-1882) dalam bukunya yang terbit tahun 1871 berjudul Theory of Political Economy meluncurkan the law of indif­ference dalam konteks theory of exchange. Menurut Jevons, “… in the same open market, at any moment, there cannot be two prices for the same kind on article.” Selanjutnya Jevons mengatakan bahwa “When a commodity is perfectly uniform or homogenous in quality, any portion may be indifferently used in place of an equal portion.” Apabila hu­kum ini tidak terjadi—yaitu diseqiulibrium, maka akan terjadi ar­bitrasi. Sampai kapan aktivitas arbitrasi ini terjadi? Jevons me­ngatakan bahwa “Holders of commodities will be regarded not as con­tinuously passing on these commodities in streams of trade, but as pos­sessing certain fixed amounts which they exchange until they come to equilibrium.” (Dome 1994:90-96).

Dalam kerumunan tokoh-tokoh marginalist di atas, hanya Marshall yang dianggap paling menonjol. Alasannya adalah: Per­tama, paparan dia tentang analisis marginal dari beliau cukup lengkap dan jelas; Kedua, dia mendominasi literatur-literatur ekonomika mikro sekarang; dan Ketiga, dia menjadi guru pentolan-pentolan ekonom awal abad 20, seperti J. M. Keynes (termasuk bapaknya Keynes), A. C. Pigou, dan Joan Robinson (lihat Buchholz 1990:143). Buku yang melejitkan Marshall adalah: Principles of Economics yang pertama kali terbit tahun 1890.

Dalam bukunya, Marshall mengambil alih semua imaginasi equilibrium dari kaum neoklasik sebelumnya. Menurut Mar­shall, keseimbangan adalah sebuah analisis yang melibatkan proses eliminasi berbagai faktor yang dianggapnya tidak relevan. Proses ini kemudian dikenal sebagai ceteris paribus. Analisis ke­seimbangan ini dipakai untuk menjelaskan adanya dua counter­vailing forces baik dalam, misalnya, teori perilaku konsumen (garis anggaran vis-à-vis kurva indiferens), dalam teori perilaku pro­dusen (biaya marginal vis-à-vis penerimaan marginal), atau teori pasar (kurva permintaan vis-à-vis kurva penawaran). Marshall mengibaratkan dua countervailing forces tersebut seperti sepasang pisau gunting, bahwasanya “When one blade is held still, and the cutting is affected by moving the other, we may say with careless brevity that the cutting is done by the second ….” (Dome 1994:153).

.

Partial Equilibrium dan General Equilibrium

Melihat dari kejauhan hiruk-pikuknya pergulatan pemikiran para kaum marginalis, tiba-tiba muncul Leon Walras (1834-1910) yang mengusung pendekatan general equilibrium. Menurut Walras, siapapun yang belum memaksimumkan utilitasnya akan menderita excess demand sekaligus excess supply. Tujuan dari ex­change adalah memaksimumkan utilitas, yang berarti mem­buang excess supply untuk memperkecil excess demand. Oleh kare­na itu, segala upaya untuk mengadakan exchange akan mempe­ngaruhi nilai (value) seluruh barang dalam perekonomian. Dalam kata lain, aktivitas produksi dan konsumsi adalah saling bergan­tung satu sama lain. Ini adalah inti dari karya Walras berjudul Element of Pure Economics yang terpublikasi pada tahun 1874.

Pemikiran Walras dapat disederhanakan sebagai berikut: Anggap ada dua jenis komoditi (1 dan 2) yang saling dipertu­kar­kan di antara dua individu (1 dan 2). Sebelum pertukaran, indi­vidu 1 memegang komoditi 1 q11 dan komoditi 2 q12 sementara individu 2 mempunyai komoditi 1 q21 dan komo­diti 2 q22. Mela­lui pertukaran, individu 1 mengubah komo­diti 1 sebe­sar x11 dan komoditi 2 sebesar x12 sementara individu 2 me­ngu­bah komoditi 1 sebesar x21 dan komoditi 2 sebesar x22. (Kita bisa mengatakan bahwa x11 dan x12 analog dengan ∆q11 dan ∆q12; dan x21 dan x22 analog dengan ∆q21 dan ∆q22).

Akibat dari pertukaran individu 1 dapat mengkonsumsi q11 + x11 (atau q11 + ∆q11); dan individu 2 dapat mengkonsumsi q21 + x21 (atau q21 + ∆q21). Jika positif, maka xij adalah demand; se­men­tara jika negatif, maka xij adalah supply. Permintaan harus sa­ma dengan penawaran. Artinya, individu 1 dan 2 harus tunduk kepada p1x11 + p2x12 = 0 dan p1x21 + p2x22 = 0. Jika kita nyatakan p = p2/p1 dan p1 = 1 (numeraire) maka x11 + px12 = 0 dan x21 + px22 = 0, dan kemudian keduanya dijumlahkan, maka kita mendapatkan x11 + x12 + p(x12 + px22) = 0. Inilah yang dinamakan Walras’s Law.

Diceritakan oleh Ekelund dan Herbert (1997:382-398) betapa Walras, jagoan dalam matematika, mengalamatkan bukunya kepa­da Marshall. Walras menuduh bahwa keseimbangan yang dimaksud Marshall bukanlah keseimbangan yang sebenarnya. Marshallian equilibrium terlalu parsial, tidak mempertim­bangkan aspek interindependence, dan dipastikan oleh Walras mengandung excess demand dan excess supply. Pendek kata, Walras menuduh Marshall terlalu berani mengklaim sebuah keseimbangan.

Meskipun demikian, analisis Walrasian general equilibrium bu­kan tanpa masalah. Walras kurang meyakinkan dalam men­je­laskan bagaimana equilibrium in general dapat terjadi. Menu­rut­nya, keseimbangan terjadi melalui proses tâtonnement yaitu “… the demonstration of the attainment of that equilibrium through the play of the raising and the lowering of prices until the equality of supply and demand quantities is established” (Dome 1994:109).Adanya proses tâtonnement memunculkan pertanyaan: Apakah keseimbangan kompetitif dimungkinkan terjadi? Jika terdapat disturbance, da­patkah Walrasian system bergerak kembali menuju equilibrium?

Dua pertanyaan ini sangat merisaukan Vilfredo Pareto (1848-1923), murid sekaligus teman korespondensi Walras. Menu­rut Pareto (dalam bukunya Treatise on General Sociology, 1916) mengatakan bahwa masyarakat ditegakkan oleh individu-indi­vidu yang senantiasa mengarah ke keseimbangan, yaitu pemu­lihan sete­lah terjadi konflik atau pergolakan. Individu-individu saling mem­pengaruhi, agar keseimbangan tercapai. Ada dua daya (stabilizing force) yang me­mungkinkan terjadinya pemulihan keseimbangan, yaitu:

  • Setiap individu cenderung menggabungkan hal-hal yang tidak ada hu­bungannya satu sama lain, sehingga menjadi kombinasi baru. Mereka juga cenderung bersatu dengan orang lain, me­neladani, dan menyesuai­kan diri dengan mayoritas. Kecen­derungan ini disebut the instinct of combi­nation.
  • Setiap individu cenderung mempertahankan kombinasi yang telah di­buat­nya, dan menjaga diri (hati-hati) sebagai individu yang utuh. Kecen­de­rungan ini disebut the persistance of aggre­gates.

Akibat pengaruh daya pertama, individu selalu aktif menca­ri kom­binasi-kombinasi baru. Bahkan, individu mencoba mencari hubungan kausal dua realitas yang tidak ada hubungan­nya sama sekali. Misalkan, seseorang mengasosiasikan malape­taka yang menimpa dirinya dengan perbuatan yang ia alami sebelumnya; menghubungkan takhayul dengan teori-teori ilmiah; menghu­bungkan nasionalisme dengan kebijakan ekono­mi; dan lain-lain. Akibat pengaruh daya kedua, manusia segan akan adanya peru­bahan.

.

PENUTUP

Ada beberapa point penting dari paparan saya di atas, yaitu:

  • Diskusi tentang equilibrium pasti melibatkan dua atau lebih countervailing forces.
  • Konsep partial equilibrium atau general equilibrium, pada dasarnya, berbicara tentang a degree of abstraction (atau dera­jad ceteris paribus).
  • Equilibrium mengkonotasikan suatu kondisi yang diinginkan oleh manusia.
  • Konsep equilibrium tidak besangkut-paut dengan kemam­puan matematika untuk mengeksposisikan, tetapi mengacu kepada kemampuan individu untuk mencapainya.

Jadi, saya mungkin dalam kondisi equilibrium ketika saya duduk santai dengan secangkir kopi panas racikan Sido Mulyo dan dengan sebatang rokok Dji Sam Soe yang asapnya meliuk-liuk. Atau, tiba-tiba menjadi dis­equilibrium (marah) ketika kopi yang hendak saya minum, tersenggol anak saya sehingga tumpah. Jika ini terjadi, usaha untuk membuat secangkir kopi lagi tentu dapat membuat saya equlibrium lagi (meskipun dengan sedikit ngomel-ngomel dalam rangka menuju new equilibrium).

Dalam literatur ekonomika dikenal istilah Paretian equilibrium, yaitu, ketika saya menjadi better off tanpa membuat anak saya worse off. Mungkin, ketika saya enak-enakan (better off), saya belum menyadari bahwa anak saya worse off karena membutuhkan perhatian dari saya. Jika demikian, masalah saya bukan membuat kopi panas lagi, tetapi bagaimana membuat saya better off seraya membuat anak terperhatikan oleh saya.

.

Daftar Pustaka

  • Buchholz, T. G. (1990), New Ideas from Dead Economists: An Introduction to Modern Economic Thought, New York: A Plume Book.
  • Dome, T. (1994), History of Economic Theory: A Critical Intro­duction, Aldershot: Edward Elgar.
  • Doti, J. L. dan Dwight R. L. (1991), The Market Economy: A Reader, Los Angeles: Roxbury Publishing Company.
  • Ekelund, Jr., R. B. dan R. F. Hebert (1997), A History of Eco­nomic Theory and Method, New York: McGraw-Hill.

.

 Catatan Kaki

[1]<!–[endif]–> Adam Smith dalam abridged article (dari Wealth of Nations, 1937) yang diberi judul: “Of the Division of Labour and Restraints upon Importation,” oleh James L. Doti dan Dwight R. Lee (1991), The Market Economy: A Reader, Los Angles: Roxbury Publishing Company.

[2]<!–[endif]–> Dalam literatur ekonomika dikenal istilah Paretian equilibrium, yaitu, ketika saya menjadi better off tanpa membuat anak saya worse off. Mungkin, ketika saya enak-enakan (better off), saya belum menyadari bahwa anak saya worse off karena membutuhkan perhatian dari saya. Jika demikian, masalah saya bukan membuat kopi panas lagi, tetapi bagaimana membuat saya better off seraya membuat anak terperhatikan oleh saya.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: